Sukabuminow.com || Langkah konkret memperkuat ketahanan pangan nasional berbasis lokal kembali digaungkan dari Kabupaten Sukabumi. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mendorong petani, khususnya generasi milenial, untuk mengembangkan budidaya selada sistem hidroponik yang dinilai memiliki pasar sangat terbuka dan prospek ekonomi menjanjikan.
Dorongan itu disampaikan saat kunjungannya ke kelompok tani di Kecamatan Sukalarang, kawasan perbatasan dengan Sukaraja, tepatnya di kaki Gunung Gede Pangrango, Jumat (27/2/26) lalu.
Dalam kunjungan tersebut, Aep melihat langsung budidaya selada hidroponik sederhana berbahan bambu. Sistem ini dinilai efisien, adaptif terhadap lahan terbatas, dan menghasilkan kualitas rasa yang lebih segar dibandingkan pola tanam konvensional.
“Market-nya sangat terbuka, baik untuk restoran di Sukabumi, pasar tradisional, maupun kebutuhan MBG,” ujarnya, Minggu (1/3/26).
Permintaan selada terus meningkat seiring tren konsumsi makanan sehat di masyarakat. Restoran, pelaku usaha kuliner, hingga program pemenuhan gizi menjadi ceruk pasar potensial yang belum jenuh.
“Kondisi ini membuka peluang ekonomi baru bagi petani lokal untuk naik kelas dan memperluas jaringan distribusi,” katanya.
Aep menjelaskan, pihaknya mencatat, paguyuban petani hidroponik di Sukabumi kini telah berkembang dengan anggota sekitar 100 orang, tersebar dari Palabuhanratu hingga Cikidang. Paguyuban tersebut diprakarsai oleh salah satu inisiator lokal, Pak Andi, sebagai wadah kolaborasi, pemasaran, serta peningkatan kapasitas petani.
Aep secara terbuka mengajak petani milenial untuk bergabung.
“Bagi para petani milenial yang ingin mengembangkan pertanian hidroponik, silakan bergabung. Potensi pengembangannya masih sangat terbuka dan cukup menguntungkan,” tegasnya.
Pendekatan kolektif ini dinilai penting agar produksi stabil, kualitas terstandar, serta daya tawar petani meningkat dalam menghadapi pasar modern.
Sistem hidroponik yang dikembangkan di Sukabumi tidak selalu membutuhkan instalasi mahal. Dengan memanfaatkan bambu sebagai media tanam, petani mampu menekan biaya produksi tanpa mengurangi kualitas hasil.
Model ini menjadi solusi strategis di tengah keterbatasan lahan serta tantangan alih fungsi lahan pertanian. Selain itu, hidroponik dinilai lebih hemat air dan minim pestisida, sehingga sejalan dengan arah pertanian berkelanjutan.
Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi menegaskan komitmennya untuk terus mendukung inovasi pertanian yang adaptif terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan pasar nasional.
“Untuk para petani Sukabumi, mari bergabung dengan paguyuban petani hidroponik. Bertani itu keren!” pungkas Aep penuh semangat.
Langkah pengembangan selada hidroponik di kaki Gunung Gede Pangrango bukan sekadar inovasi teknis, tetapi juga bagian dari strategi memperkuat ekonomi desa berbasis potensi lokal. Sukabumi, dengan bentang alam subur dan iklim mendukung, dinilai memiliki modal kuat untuk menjadi sentra sayuran hidroponik di Jawa Barat bahkan nasional.
Jika dikelola secara konsisten dan terintegrasi, budidaya selada hidroponik berpeluang menjadi model percontohan pertanian modern berbasis komunitas yang mampu menjawab tantangan regenerasi petani di Indonesia.
Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana
