Magang di Humas Disdik, Menemukan Kisah Sekolah Inklusi di SDN Perwira Bogor

Sukabuminow.com || Di balik sebuah berita tentang pendidikan, ada cerita yang sering luput dari perhatian. Ada orang yang mengumpulkan data, memeriksa informasi, mengambil gambar, menulis narasi, lalu memastikan pesan sampai kepada masyarakat dengan cara yang tepat. Pekerjaan itu mungkin tidak selalu terlihat, tetapi di situlah salah satu peran penting humas bekerja.

Sebagai mahasiswa yang melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Dinas Pendidikan Kota Bogor, saya mendapat kesempatan melihat pekerjaan tersebut dari dekat. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya terlibat dalam pembuatan profil sekolah dan dokumentasi kegiatan di SDN Perwira.

Pengalaman itu membuat saya menyadari bahwa pekerjaan humas bukan sekadar menyampaikan pengumuman. Humas juga memiliki tanggung jawab untuk menemukan cerita di balik data, mengemasnya secara menarik, sekaligus memastikan informasi yang disampaikan kepada publik tetap akurat.

Ketika Anak Reguler Menjadi Minoritas

SDN Perwira, yang berdiri sejak 1977 di Kelurahan Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah, telah menyelenggarakan pendidikan inklusi sejak 2003. Sekolah ini menghadirkan sebuah gambaran menarik tentang bagaimana keberagaman dapat tumbuh dalam lingkungan pendidikan.

Pada tahun ajaran 2022/2023, SDN Perwira memiliki 127 siswa. Menariknya, hanya 17 siswa yang merupakan siswa reguler, sedangkan 110 lainnya merupakan anak berkebutuhan khusus dengan beragam karakteristik, antara lain tunarungu, tunagrahita, autisme, hingga ADHD.

Dengan komposisi tersebut, siswa reguler justru menjadi kelompok minoritas. Namun, angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik angka itu terdapat pengalaman tentang bagaimana anak-anak belajar hidup berdampingan dengan perbedaan.

Saat mendokumentasikan kegiatan pembelajaran, saya melihat siswa reguler menjadi tutor sebaya bagi teman-temannya. Mereka membantu, menemani, dan belajar bersama. Di sisi lain, sesama siswa berkebutuhan khusus juga saling mengingatkan untuk bersikap baik.

Di ruang kelas itu, inklusi tidak berhenti sebagai istilah dalam dokumen pendidikan. Ia hadir dalam interaksi sehari-hari.

Perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, perbedaan menjadi ruang untuk belajar tentang empati, kesabaran, dan penghargaan terhadap orang lain.

Pendidikan Inklusi Bukan Pekerjaan Satu Pihak

Ada hal lain yang menarik perhatian saya: keterlibatan orang tua.

Keterbatasan guru pendamping membuat para orang tua turut mengambil peran. Mereka bergiliran membantu menjadi fasilitator kelas. Situasi ini menunjukkan bahwa pendidikan inklusi tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah dan guru.

Pendidikan membutuhkan ekosistem.

Guru, orang tua, siswa, pemerintah, dan masyarakat memiliki peran masing-masing. Ketika semua pihak mengambil bagian, pendidikan inklusi tidak sekadar menjadi program, tetapi menjadi budaya yang tumbuh bersama.

SDN Perwira juga rutin menjalankan program PKPBI atau Pengembangan Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama. Program tersebut mencakup latihan artikulasi, membaca gerak bibir, hingga penggunaan bahasa isyarat bagi siswa dengan hambatan pendengaran.

Semua aktivitas itu sebenarnya menyimpan cerita yang kuat. Sayangnya, cerita-cerita seperti ini sering kalah ramai dibandingkan informasi yang bersifat seremonial.

Di sinilah pekerjaan humas menjadi penting.

Humas Bukan Sekadar Membuat Konten

Bagi saya, pengalaman di SDN Perwira memperlihatkan bahwa humas pemerintah tidak cukup hanya menjadi penyampai informasi. Humas perlu menjadi pengelola narasi publik.

Data mengenai jumlah siswa, program sekolah, kegiatan pembelajaran, dan keterlibatan orang tua adalah bahan mentah. Humas memiliki pekerjaan berikutnya: memastikan bahan tersebut menjadi informasi yang mudah dipahami, memiliki konteks, dan mampu memberikan gambaran yang utuh kepada masyarakat.

Namun, pekerjaan itu tidak selalu mudah.

Keterbatasan sumber daya manusia dan arus informasi antarbidang yang belum sepenuhnya terstandardisasi menjadi tantangan tersendiri. Informasi yang baik membutuhkan proses pengumpulan, verifikasi, pengemasan, dan penyebaran yang terkoordinasi.

Karena itu, digitalisasi arsip dan pengelolaan data menjadi langkah penting. Data yang tertata akan memudahkan pencarian informasi, mempercepat proses produksi konten, sekaligus membantu menjaga konsistensi informasi yang disampaikan kepada publik.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Yang paling menentukan tetaplah manusia yang mengelola informasi tersebut.

Dari Data Menjadi Cerita

Pengalaman mendokumentasikan SDN Perwira mengajarkan saya satu hal sederhana: setiap data pendidikan memiliki cerita.

Angka 127 siswa mungkin terlihat biasa dalam sebuah laporan. Tetapi ketika kita mengetahui bahwa 110 di antaranya merupakan siswa berkebutuhan khusus dan hanya 17 siswa reguler, kita mulai melihat sebuah realitas pendidikan yang berbeda.

Lebih jauh lagi, ketika angka itu diterjemahkan menjadi cerita tentang siswa yang saling membantu, orang tua yang ikut mendampingi pembelajaran, serta guru yang terus menjalankan program untuk mendukung komunikasi siswa, data tersebut berubah menjadi sesuatu yang lebih bermakna.

Inilah kekuatan komunikasi.

Komunikasi yang baik bukan hanya membuat informasi diketahui. Komunikasi yang baik dapat membuat publik memahami, peduli, dan melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih manusiawi.

Merawat Keberagaman Lewat Cerita

Bagi saya, cerita SDN Perwira bukan sekadar bahan publikasi yang selesai setelah diunggah di media digital. Cerita itu adalah pengingat bahwa keberagaman dapat dirawat sejak bangku sekolah dasar.

Humas memiliki ruang untuk ikut merawat keberagaman tersebut melalui cara sederhana: menceritakannya secara jujur, akurat, dan manusiawi.

Sebab, publik tidak hanya membutuhkan informasi tentang apa yang dilakukan pemerintah. Publik juga perlu mengetahui mengapa sebuah program penting, siapa yang merasakan manfaatnya, dan nilai apa yang dapat dipetik dari pengalaman tersebut.

Pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan hanya pendidikan yang dilaksanakan dengan baik, tetapi juga pendidikan yang mampu diceritakan dengan baik.

Dan dari balik layar humas, saya belajar bahwa sebuah kamera, catatan, dan data bukan sekadar perangkat dokumentasi. Ketiganya dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan praktik baik, membangun pemahaman publik, dan menunjukkan bahwa di tengah keberagaman, selalu ada kisah tentang manusia yang belajar untuk saling menerima.

Penulis: Keysha Zahra Alzena
(mahasiswa Program Studi Sains Komunikasi, FISIP, Universitas Djuanda, yang melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Dinas Pendidikan Kota Bogor).

Editor: Andra Permana

BERITA TERKAIT

POPULER

Terbaru