Dari Blankspot 18 Tahun ke Era Terhubung, Ini Dampak Tower Combat di Sukarame Sukabumi

Sukabuminow.com || Setelah sekitar 18 tahun berada dalam kondisi blankspot, Desa Sukarame, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kini mulai merasakan perubahan setelah tower combat Telkomsel hadir di wilayah tersebut.

Kehadiran menara telekomunikasi sementara itu membuat akses komunikasi warga mulai terbuka. Sinyal yang sebelumnya nyaris tidak tersedia kini sudah dapat ditangkap di sejumlah wilayah Desa Sukarame.

Kepala Desa Sukarame, Hermawan, menyebut kehadiran tower combat menjadi perubahan penting bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun menghadapi keterbatasan jaringan seluler.

“Alhamdulillah, dengan adanya tower combat Telkomsel ini, Desa Sukarame tidak blank spot lagi. Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang membantu menghadirkan program ini,” ujar Hermawan saat ditemui di kantornya, Selasa (1/9/26).

Hadirnya tower combat tersebut tidak terlepas dari upaya Pemerintah Kecamatan Cisolok membuka akses komunikasi bagi wilayah yang selama ini kesulitan mendapatkan jaringan.

Fasilitasi dilakukan Camat Cisolok Okih Pazri Assidiq saat menghadiri agenda bersama Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dan Saan Mustopa, belum lama ini. Pertemuan tersebut berlangsung bersama Pemerintah Desa Sirnaresmi serta pimpinan Kasepuhan Ciptamulya Abah Hendrik Suhendrik Wijaya dalam pembahasan musibah kebakaran yang melanda kawasan Ciptamulya.

Persoalan blankspot Desa Sukarame turut disampaikan dalam rangkaian komunikasi tersebut.

Dari proses tersebut, akses jaringan kemudian mulai mendapat perhatian hingga tower combat Telkomsel dapat ditempatkan di wilayah Desa Sukarame.

“Bagi pemerintah desa, perubahan ini memiliki arti penting karena persoalan jaringan bukan sekadar menyangkut kemudahan berkomunikasi.”

“Akses sinyal juga berkaitan dengan kebutuhan masyarakat di bidang pendidikan, ekonomi, pelayanan pemerintahan, hingga komunikasi dalam situasi darurat,” ujarnya.

Hermawan mengatakan cakupan sinyal saat ini memang belum sepenuhnya merata.

Sejumlah wilayah, terutama Kampung Impres dan Sukarame, masih mengalami sinyal yang lemah. Pada beberapa titik, sinyal hanya muncul satu hingga dua bar.

Meski belum stabil, kondisi tersebut dinilai jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

“Memang masih ada beberapa kampung yang sinyalnya belum normal. Namun, sekarang sudah membaik. Sebelumnya benar-benar tidak ada sinyal,” katanya.

Perbaikan jaringan juga disebut akan dilakukan oleh pihak Telkomsel untuk memperluas dan meningkatkan kualitas layanan.

Dengan kondisi geografis Desa Sukarame yang memiliki permukiman tersebar, pemerataan jaringan menjadi tantangan tersendiri.

“Desa Sukarame memiliki 16 kampung. Jarak antarpermukiman juga cukup berjauhan, dengan beberapa kawasan berjarak sekitar dua hingga tiga kilometer dan berada di bawah,” ungkapnya.

Sebelum tower combat hadir, sebagian warga mengandalkan layanan internet berbasis voucher untuk memenuhi kebutuhan komunikasi dan akses internet.

Menurut Hermawan, kehadiran tower combat tidak menimbulkan persoalan bagi pelaku usaha voucher di desa.

Justru, akses jaringan seluler memberikan pilihan komunikasi yang lebih luas bagi masyarakat.

“Tidak ada masalah dengan internet voucher, warga masih menggunakan itu. Hadirnya tower Combat sekarang membuat jangkauannya bisa lebih luas, termasuk ke kebun dan sawah. Komunikasi warga juga menjadi lebih lancar,” ujarnya.

Dampak tersebut dirasakan penting bagi masyarakat yang aktivitasnya tidak hanya berlangsung di kawasan permukiman.

“Petani yang berada di kebun atau sawah kini memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan akses komunikasi,” katanya.

Hermawan mengatakan tower combat yang saat ini digunakan masih bersifat sementara dan memiliki ketinggian sekitar 40–45 meter.

Sementara itu, rencana pembangunan menara permanen disebut memiliki ketinggian sekitar 75 meter.

Namun, titik koordinat dan lokasi final pembangunan masih akan ditentukan oleh pihak Telkomsel.

“Informasi yang saya dengar, rencananya sekitar 75 meter. Kalau lebih tinggi, tentu kami berharap jangkauannya juga lebih luas dan sinyal di Desa Sukarame bisa lebih penuh,” kata Hermawan.

Ia berharap, menara permanen dapat ditempatkan di lokasi yang mudah dikontrol dan tetap mampu memberikan cakupan maksimal.

“Salah satu lokasi yang diharapkan menjadi pertimbangan adalah kawasan di belakang kantor desa, di luar lingkungan permukiman utama,” harapnya.

Bagi Desa Sukarame, perubahan kualitas jaringan ini menjadi babak baru setelah bertahun-tahun mengalami keterbatasan telekomunikasi.

Hermawan menyebut kondisi blankspot telah berlangsung sekitar 18 tahun.

Kini, meskipun belum seluruh wilayah terlayani secara optimal, masyarakat setidaknya sudah dapat menikmati akses sinyal di sejumlah titik.

“Alhamdulillah, sekarang sudah membaik untuk Desa Sukarame, terutama di bidang sinyal. Tidak terlalu blankspot seperti sebelumnya,” tutur Hermawan.

Ia berharap perbaikan jaringan dapat terus dilanjutkan hingga seluruh 16 kampung mendapatkan layanan yang lebih stabil.

Kehadiran tower combat Telkomsel Sukarame menjadi langkah awal untuk membuka konektivitas digital di wilayah yang selama ini tertinggal dari akses jaringan.

Bagi warga, sinyal bukan lagi sekadar kebutuhan untuk menelepon atau mengirim pesan.

Konektivitas juga menjadi pintu menuju informasi, pendidikan, aktivitas ekonomi, pelayanan publik, dan komunikasi yang lebih cepat.

Setelah 18 tahun menunggu, Desa Sukarame kini mulai terhubung.

Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

POPULER

Terbaru