Sukabuminow.com || Wakil Ketua DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan, Saan Mustopa, meninjau langsung kondisi Kasepuhan Ciptamulya Sukabumi di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (10/8/26).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi masyarakat setelah bencana sekaligus memastikan kebutuhan warga terdampak mendapat perhatian pemerintah.
Saan Mustopa datang bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Sukabumi. Rombongan didampingi Bupati Sukabumi Asep Japar, Kapolres Sukabumi AKBP Benny Cahyadi, Dandim 0622/Kabupaten Sukabumi Letkol Inf. Agung Ariwibowo, Forkopimcam Cisolok, serta sejumlah unsur terkait.
Di lokasi, politisi Partai NasDem itu melihat langsung kondisi Kasepuhan Ciptamulya yang tengah memasuki tahap pemulihan pascabencana.
Menurut Saan, sekitar 51 keluarga terdampak akibat bencana tersebut. Karena itu, penanganan tidak cukup berhenti pada bantuan darurat. Pemerintah juga harus memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan hingga warga dapat kembali memiliki tempat tinggal yang layak.
“Ya, kita hari ini melakukan kunjungan dengan Pak Bupati, ada dari Pak Teten Kepala BPBD Jawa Barat, ada Pak Dandim, Pak Kapolres. Kita melihat keadaan pascamusibah, pascabencana. Ini kurang lebih 51 keluarga yang terdampak,” ujar Saan di lokasi.
Saan menjelaskan, penanganan pascabencana kini memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi.
Salah satu kebutuhan paling mendesak adalah pembangunan kembali tempat tinggal warga. Namun, kondisi lokasi terdampak membuat seluruh rumah tidak memungkinkan untuk dibangun kembali di tempat semula.
Karena itu, opsi relokasi menjadi bagian penting dalam proses pemulihan masyarakat Kasepuhan Ciptamulya.
“Memang hari ini pascamusibah ini masuk fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Nanti untuk membangun fasilitas, terutama yang paling mendesak itu rumah warga, dan juga ada relokasi baru,” kata Saan.
Menurutnya, percepatan relokasi harus menjadi perhatian bersama. Warga terdampak saat ini masih berada di sejumlah tempat sementara.
Sebagian berada di pengungsian. Sebagian lainnya tinggal di rumah saudara atau tetangga.
Kondisi tersebut, kata Saan, tidak boleh berlangsung terlalu lama karena terdapat berbagai kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi.
“Kita akan coba upayakan semaksimal mungkin agar warga yang terkena dampak bisa secepatnya menempati tempat yang baru. Sementara ini ada di pengungsian, ada di saudara, ada di tetangga. Itu kita tidak boleh dibiarkan berlama-lama,” tegasnya.
Persoalan pemulihan Kasepuhan Ciptamulya tidak hanya menyangkut pembangunan fisik.
Saan menilai keberadaan kampung adat tersebut memiliki nilai budaya yang harus tetap dijaga dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi.
Kasepuhan Ciptamulya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat adat di kawasan Sukabumi selatan. Karena itu, pembangunan pascabencana harus memperhatikan karakter sosial dan budaya masyarakat setempat.
“Karena ini kampung adat, kampung adat ini salah satu cagar budaya yang memang harus kita jaga. Harus kita jaga secara bersama-sama, harus kita pelihara secara bersama-sama,” ujarnya.
Saan menilai penanganan Kasepuhan Ciptamulya membutuhkan kolaborasi lintas pemerintahan.
Dukungan tidak hanya diperlukan dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat juga dinilai memiliki peran penting untuk memastikan proses pemulihan berjalan optimal.
“Ini membutuhkan bantuan dari semua pihak. Bukan hanya dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan Provinsi Jawa Barat, tetapi juga tentu dari pemerintah pusat,” katanya.
Dalam kunjungan tersebut, Saan mengaku telah memberikan bantuan awal kepada masyarakat terdampak.
Namun, bantuan tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pemulihan dalam jangka panjang.
Karena itu, Saan menyatakan akan membawa kebutuhan masyarakat Kasepuhan Ciptamulya untuk dibicarakan lebih lanjut bersama pihak terkait di tingkat pusat.
“Tadi baru memberikan bantuan ala kadarnya. Nanti apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan lain, kita bicarakan secara bersama-sama. Bagaimana cara menanggulanginya,” ujar Saan.
Ia berharap kebutuhan paling mendesak dapat segera diselesaikan. Setelah itu, pemerintah dapat memikirkan program pemulihan jangka panjang bagi masyarakat terdampak.
Menurut Saan, penanganan awal di kawasan tersebut relatif sudah berjalan melalui koordinasi Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, BPBD, serta unsur terkait lainnya.
Namun, kebutuhan warga yang masih belum tertangani harus tetap menjadi perhatian.
Selain Kasepuhan Ciptamulya, kunjungan Saan juga menyoroti persoalan kebencanaan di Kabupaten Sukabumi secara lebih luas.
Menurutnya, karakter geografis Sukabumi membuat daerah tersebut memiliki tantangan kebencanaan yang kompleks.
Wilayah Kabupaten Sukabumi terdiri atas kawasan pegunungan, pesisir, dan wilayah dengan kondisi geografis yang beragam. Kabupaten ini juga memiliki 47 kecamatan dan 381 desa.
Kondisi tersebut membuat penanganan bencana membutuhkan strategi yang tidak hanya berorientasi pada respons setelah bencana terjadi.
Mitigasi dan kesiapsiagaan harus diperkuat agar risiko dapat ditekan sejak awal.
“Memang ini daerah yang relatif kompleks. Maka dibutuhkan ke depan mitigasi. Mana yang bisa dicegah sebelum bencana itu terjadi, mana yang memang bencana tidak bisa kita rencanakan,” kata Saan.
Ia menyebut sejumlah potensi bencana yang perlu diantisipasi, mulai dari longsor, banjir, banjir bandang, kekeringan hingga kebakaran.
Bagi Saan, masyarakat dan pemerintah harus memiliki kewaspadaan yang sama. Pengetahuan mengenai risiko bencana juga perlu diperkuat agar masyarakat mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika situasi darurat terjadi.
“Mitigasi itu penting. Kewaspadaan itu juga penting buat kita semua, buat masyarakat, juga termasuk buat pemerintah,” tegasnya.
Kunjungan Saan Mustopa ke Kasepuhan Ciptamulya memperlihatkan bahwa persoalan pascabencana tidak berhenti ketika kondisi darurat berakhir.
Tahap berikutnya justru menjadi pekerjaan besar karena menyangkut pemulihan rumah, fasilitas, kehidupan sosial, serta masa depan masyarakat terdampak.
Bagi warga Kasepuhan Ciptamulya, percepatan relokasi menjadi kebutuhan mendesak. Namun, pembangunan kembali juga harus tetap menghormati karakter kampung adat.
Di sisi lain, pengalaman bencana di Cisolok menjadi pengingat bagi Kabupaten Sukabumi untuk memperkuat mitigasi di wilayah lainnya.
Saan menegaskan, masyarakat yang terdampak bencana tidak boleh berjalan sendiri. Pemerintah di setiap tingkatan harus hadir melalui koordinasi dan dukungan yang berkelanjutan.
Dengan demikian, pemulihan Kasepuhan Ciptamulya bukan sekadar membangun kembali rumah yang rusak. Lebih dari itu, proses tersebut menjadi upaya mengembalikan kehidupan masyarakat sekaligus menjaga warisan budaya yang telah menjadi bagian penting dari identitas Sukabumi.
Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana
