Kabupaten SukabumiPemerintahanPendidikan

Krisis Ruang Kelas di Sukabumi, Disdik Ungkap Penyebab dan Solusi Mendesak

Sukabuminow.com || Krisis infrastruktur pendidikan mulai mengemuka di daerah. Di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ribuan ruang kelas sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) dilaporkan mengalami kerusakan dengan berbagai tingkat keparahan. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi mengganggu kualitas pembelajaran dan keselamatan siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, mengungkapkan bahwa persoalan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia menegaskan, sebagian besar bangunan sekolah yang rusak merupakan konstruksi lama yang dibangun sejak era 1980-an dan belum mendapatkan intervensi perbaikan secara optimal.

“Faktor utama memang usia bangunan. Banyak sekolah dibangun sejak tahun 80-an dan belum mendapatkan perbaikan menyeluruh,” ujar Deden, Kamis (30/4/26).

Namun demikian, persoalan tidak berhenti pada usia bangunan. Deden menyoroti lemahnya pemeliharaan rutin sebagai faktor yang mempercepat kerusakan. Ia menyebut, kerusakan ringan seperti atap bocor sering kali diabaikan, sehingga berkembang menjadi kerusakan struktural yang lebih serius.

“Awalnya hanya kebocoran kecil, tetapi karena tidak segera ditangani, material menjadi lapuk hingga akhirnya terjadi kerusakan berat, bahkan atap ambruk,” jelasnya.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, jumlah ruang kelas rusak tergolong signifikan:

Jenjang SD:

2.517 ruang kelas rusak ringan
2.969 rusak sedang
952 rusak berat
1.977 dalam kondisi baik

Jenjang SMP:

913 ruang kelas rusak ringan
933 rusak sedang
162 rusak berat
1.228 dalam kondisi baik

Data tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh ruang kelas berada dalam kondisi tidak optimal, sebuah indikator serius bagi kualitas layanan pendidikan di daerah.

Kerusakan ruang kelas bukan sekadar persoalan fisik bangunan, melainkan isu strategis yang berdampak langsung terhadap mutu pendidikan. Ruang belajar yang tidak layak dapat menurunkan konsentrasi siswa, menghambat proses belajar-mengajar, hingga meningkatkan risiko kecelakaan.

Di sisi lain, kondisi ini juga mencerminkan tantangan tata kelola anggaran pendidikan, khususnya dalam aspek pemeliharaan aset. Ketergantungan pada pembangunan baru tanpa diimbangi perawatan rutin dinilai menjadi salah satu akar masalah yang perlu dibenahi.

Sebagai langkah antisipasi, Deden menekankan pentingnya peran aktif pihak sekolah dalam melakukan perawatan dini. Ia mendorong agar kerusakan ringan segera ditangani menggunakan dana pemeliharaan yang bersumber dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“Jangan menunggu rusak berat. Kerusakan kecil harus segera diperbaiki agar tidak menimbulkan dampak yang lebih besar,” tegasnya.

Meski pemeliharaan rutin menjadi solusi jangka pendek, kondisi ribuan ruang kelas rusak di Sukabumi juga menuntut intervensi lebih luas dari pemerintah daerah hingga pusat. Program rehabilitasi besar-besaran dinilai penting untuk memastikan seluruh siswa mendapatkan fasilitas belajar yang aman dan layak.

Jika tidak segera ditangani, persoalan ini berpotensi menjadi bom waktu bagi dunia pendidikan, terutama di daerah dengan jumlah sekolah besar seperti Kabupaten Sukabumi.

Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana

Berita Terkait

Back to top button

You cannot copy content of this page