Sukabuminow.com || Harapan petani untuk mendapatkan pasokan air yang lebih baik mulai menemukan titik terang. Rencana rehabilitasi Daerah Irigasi (DI) Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memasuki tahap survei topografi dan pengukuran jaringan sebagai bagian dari persiapan penanganan infrastruktur pertanian.
Survei yang berlangsung pada 6–9 Oktober 2026 itu melibatkan tim konsultan mitra Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Sukabumi bersama Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Mitra Cai Jaswari. Pengukuran dilakukan di Desa Ubrug, Bojongkerta, hingga Kertamukti, dengan panjang jaringan yang menjadi perhatian mencapai sekitar 10 kilometer.
Ketua P3A Mitra Cai Jaswari, Arif Budi Ismoyo, menyambut positif perkembangan tersebut. Ia berharap tahapan survei segera ditindaklanjuti dengan pekerjaan fisik agar distribusi air ke lahan pertanian semakin optimal.
“Alhamdulillah, sekarang mulai ada titik terang. Harapannya, setelah survei selesai, pekerjaan bisa segera dilaksanakan,” ujar Arif, Jumat (9/10/26).
Perbaikan Irigasi Diharapkan Dukung Produktivitas Sawah
Menurut Arif, pembenahan jaringan DI Warungkiara sangat penting untuk mendukung kegiatan pertanian masyarakat. Selama ini, distribusi air belum optimal, terutama menuju wilayah hilir di Desa Kertamukti.
Ia menyebut ratusan hektare sawah masih mengalami kekurangan pasokan air. Karena itu, rehabilitasi diharapkan mampu memperbaiki aliran air dari jaringan utama hingga menjangkau lahan pertanian yang membutuhkan.
Selain mendukung kebutuhan pengairan, perbaikan tersebut berpotensi membantu petani menjaga keberlangsungan usaha tani dan produktivitas sawah. Manfaatnya diharapkan dapat dirasakan masyarakat di Desa Ubrug, Bojongkerta, dan Kertamukti.
Arif juga berharap sosialisasi mengenai jadwal dan teknis pekerjaan segera dilakukan. Dengan informasi yang jelas, petani dapat memahami tahapan rehabilitasi serta menyesuaikan kegiatan pertanian selama pekerjaan berlangsung.
Survei Menjadi Tahap Awal Penanganan
Pengukuran topografi dan jaringan irigasi menjadi bagian penting dalam penyusunan perencanaan teknis. Data koordinat dan elevasi saluran dapat digunakan untuk mendukung penentuan kebutuhan penanganan sesuai kondisi lapangan.
Meski demikian, survei tersebut belum berarti pekerjaan rehabilitasi fisik telah dimulai. Rincian program, sumber anggaran, dan jadwal pelaksanaan masih menunggu informasi resmi dari bidang sumber daya air DPU Kabupaten Sukabumi.
Bagi petani, tindak lanjut dari tahap perencanaan menjadi hal yang dinantikan. Mereka berharap rehabilitasi DI Warungkiara dapat memperbaiki distribusi air secara berkelanjutan, sehingga kebutuhan pengairan sawah di wilayah hilir dapat terpenuhi dengan lebih baik.
Keberhasilan program nantinya tidak hanya ditentukan oleh selesainya pekerjaan konstruksi, tetapi juga oleh kemampuan jaringan menyalurkan air secara optimal hingga ke lahan pertanian.
Dengan penanganan yang tepat, rehabilitasi DI Warungkiara diharapkan menjadi langkah penting dalam memperkuat infrastruktur pertanian dan mendukung produktivitas pangan di Kabupaten Sukabumi.
Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana
