Sukabuminow.com || Peristiwa meninggalnya seorang balita perempuan berusia 4 tahun di Kampung Neglasari, Desa Kalibunder, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (6/4/26) sore, tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga menjadi peringatan keras tentang pentingnya mitigasi bencana di lingkungan permukiman.
Korban, K, diduga terpeleset dan terseret derasnya arus air di sebuah parit saat hujan lebat mengguyur kawasan tersebut. Kejadian yang berlangsung sekitar pukul 15.10 WIB ini terjadi ketika korban tengah bermain hujan-hujanan di luar rumah tanpa pengawasan orang tua.
Sekretaris Camat Kalibunder, Taofik Nurhadi, menjelaskan bahwa intensitas hujan tinggi menyebabkan peningkatan debit air secara drastis di saluran tersebut.
“Aliran air menjadi sangat deras karena hujan. Kondisi ini berbahaya, terutama bagi anak-anak,” ujarnya.
Secara kasatmata, parit di lokasi kejadian tampak seperti saluran air biasa. Namun, dengan kemiringan mencapai 45 derajat, aliran air berubah menjadi deras dan tidak terkendali saat hujan turun.
Dalam peristiwa ini, korban terseret hingga sekitar 150 meter sebelum akhirnya ditemukan warga dalam kondisi terapung. Upaya penyelamatan sempat dilakukan, namun nyawa korban tidak dapat diselamatkan.
Kejadian ini memperlihatkan bahwa infrastruktur sederhana di lingkungan permukiman dapat menjadi titik rawan bencana jika tidak diantisipasi dengan baik.
Peristiwa ini membuka sejumlah catatan penting terkait mitigasi bencana berbasis masyarakat:
1. Pengawasan Anak Saat Cuaca Ekstrem
Anak-anak merupakan kelompok paling rentan. Pengawasan ketat saat hujan deras menjadi keharusan untuk mencegah kejadian serupa.
2. Identifikasi Titik Rawan Lingkungan
Parit, selokan, dan saluran air dengan kemiringan tinggi perlu dipetakan sebagai zona berbahaya, terutama saat musim hujan.
3. Edukasi Risiko Sejak Dini
Masyarakat perlu memahami bahwa aliran air yang tampak kecil bisa berubah menjadi arus berbahaya dalam waktu singkat.
4. Perbaikan Infrastruktur Sederhana
Pemasangan penutup parit, pagar pengaman, atau rambu peringatan bisa menjadi langkah preventif yang efektif.
5. Kesiapsiagaan Warga
Respons cepat warga dalam evakuasi patut diapresiasi, namun upaya pencegahan tetap menjadi kunci utama.
Kasus di Sukabumi mencerminkan kondisi yang banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia, terutama saat intensitas hujan meningkat.
Perubahan pola cuaca membuat potensi bencana hidrometeorologi semakin tinggi. Tanpa kesiapan dan kesadaran bersama, lingkungan sekitar rumah dapat berubah menjadi sumber bahaya.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat dalam menjaga keselamatan lingkungan.
Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana
