Sukabuminow.com || Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memperkuat gerakan peduli dan berbudaya lingkungan hidup di sekolah melalui program Adiwiyata.
Tahun ini, sebanyak 42 sekolah diusulkan mengikuti pembinaan program tersebut. Usulan berasal dari Dinas Pendidikan serta Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi, masing-masing 21 sekolah.
Kepala Bidang Kemitraan dan Penataan Hukum Lingkungan DLH Kabupaten Sukabumi, Arli Harliana, mengatakan program Adiwiyata tidak sekadar mengejar penghargaan. Program tersebut diarahkan untuk membangun kebiasaan menjaga lingkungan yang diterapkan oleh seluruh warga sekolah.
“Target saya sebenarnya semua sekolah di Kabupaten Sukabumi bisa menjadi sekolah yang berbudaya lingkungan. Namun, untuk mewujudkannya diperlukan komitmen kepala sekolah dan dukungan seluruh warga sekolah,” ujar Arli, Senin (7/9/26).
Lima Aspek Menjadi Dasar Penilaian
Dalam pembinaannya, DLH melihat lima aspek utama yang harus diterapkan sekolah. Aspek tersebut meliputi pengelolaan sampah, sanitasi dan kebersihan, efisiensi air, efisiensi energi, serta keanekaragaman hayati atau penghijauan.
Kelima aspek itu tidak hanya dinilai dari dokumen. Kondisi nyata di lingkungan sekolah juga diverifikasi untuk memastikan program benar-benar diterapkan.
Dari 42 sekolah yang diusulkan tahun ini, 15 sekolah dinilai memenuhi kriteria untuk ditindaklanjuti sebagai calon Sekolah Adiwiyata Kabupaten Sukabumi. Verifikasi lapangan telah dilakukan oleh tim DLH dalam beberapa pekan terakhir.
Penetapan sekolah Adiwiyata Kabupaten Sukabumi selanjutnya dilakukan melalui keputusan Bupati.
“Penilaiannya bukan hanya administratif. Kami juga melihat fakta di lapangan. Jadi, sekolah harus menunjukkan bahwa budaya lingkungan memang sudah dijalankan,” jelas Arli.
Bukan Lomba, tetapi Budaya yang Harus Dibangun
Arli menegaskan Adiwiyata bukan perlombaan antarsekolah. Predikat tersebut merupakan bentuk penghargaan atas penerapan budaya peduli dan berbudaya lingkungan hidup secara konsisten.
Dampaknya diharapkan tidak berhenti pada lingkungan sekolah. Kebiasaan memilah dan mengurangi sampah, menjaga kebersihan, menghemat air serta energi, dan merawat tanaman dapat dibawa siswa ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Sekolah juga diharapkan menjadi ruang belajar yang lebih bersih, sehat, nyaman, dan mendukung kegiatan belajar mengajar.
“Ketika budaya lingkungan sudah terbentuk, manfaatnya bukan hanya predikat. Sekolah menjadi lebih nyaman, bersih, dan kebiasaan baik itu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Komitmen Kepala Sekolah Jadi Kunci
Menurut Arli, salah satu tantangan terbesar dalam pelaksanaan program adalah komitmen pimpinan sekolah.
Program akan sulit berjalan apabila kepala sekolah tidak memiliki kemauan untuk membangun budaya lingkungan secara konsisten.
Karena itu, seluruh warga sekolah juga harus dilibatkan. Guru, peserta didik, tenaga kependidikan, hingga orang tua memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan program.
Setiap sekolah yang mengikuti program juga memiliki Tim Adiwiyata. Tim tersebut berfungsi sebagai penggerak, pemantau, sekaligus pihak yang memastikan budaya lingkungan terus dijalankan.
DLH Gandeng Banyak Pihak
Penguatan program Adiwiyata tidak dilakukan DLH sendirian. Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, Duta Lingkungan, pemerhati lingkungan, dan perguruan tinggi turut dilibatkan dalam proses pembinaan.
Sosialisasi juga dilakukan sebelum sekolah mengikuti tahapan program. Tahun ini, DLH terlebih dahulu memberikan pemahaman kepada sekitar 80 hingga 100 sekolah mengenai ketentuan dan tahapan Adiwiyata.
Arli mengatakan langkah tersebut penting agar sekolah memahami standar yang harus dipenuhi sejak awal.
“Sekolah harus mengetahui apa yang harus dilakukan, bagaimana prosesnya, dan apa hasil yang diharapkan. Dengan pemahaman sejak awal, pembinaan akan lebih terarah,” ujarnya.
Program tersebut mencakup sekolah negeri maupun swasta pada jenjang SD, MI, MTs, dan SMP. Untuk jenjang SMA, kewenangannya berada pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Menuju Sekolah Berbudaya Lingkungan di Seluruh Sukabumi
Arli berharap program Adiwiyata ke depan dapat terintegrasi dengan berbagai program lain, seperti sekolah sehat dan sekolah ramah anak.
Menurutnya, sejumlah indikator memiliki keterkaitan, terutama terkait sanitasi, kebersihan, pengelolaan sampah, dan kenyamanan lingkungan.
“Kalau berbagai program sekolah dapat diintegrasikan, saya kira hasilnya akan lebih kuat. Sekolah yang sudah menerapkan budaya lingkungan juga akan lebih mudah memenuhi aspek pendukung program lainnya,” tutur Arli.
Bagi DLH Kabupaten Sukabumi, keberhasilan Adiwiyata bukan ditentukan oleh banyaknya sertifikat atau penghargaan yang diperoleh.
Ukuran utamanya adalah perubahan perilaku dan terciptanya lingkungan sekolah yang sehat, bersih, serta berkelanjutan.
Dari 42 sekolah yang dibina tahun ini, 15 calon sekolah Adiwiyata menjadi bagian dari langkah awal. Target besarnya jauh lebih luas, yakni membangun budaya peduli lingkungan di seluruh satuan pendidikan di Kabupaten Sukabumi.
Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana
