Dari Cisolok ke Pasar Global, Kopi Gunung Kramat Sukabumi Diperkuat Teknologi Pascapanen

Sukabuminow.com || Potensi kopi Desa Gunung Kramat, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai diarahkan menuju pasar yang lebih luas. Tidak hanya mengandalkan produksi, pengembangan kini menyasar kualitas biji, teknologi pascapanen, hingga akses pasar internasional.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mengatakan Gunung Kramat memiliki potensi kuat karena tiga varietas kopi dikembangkan di kawasan tersebut. Ketiganya adalah robusta, arabika, dan liberika.

“Potensi di Desa Gunung Kramat sangat menjanjikan. Ada tiga varietas kopi yang dikembangkan, yaitu robusta sekitar 20 hektare, arabika 100 hektare, dan liberika 5 hektare,” ujar Aep, Jumat (2/10/26).

Menurut Aep, penguatan komoditas tersebut tidak berhenti pada penyediaan bibit. Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi juga telah memfasilitasi kelompok tani dengan sejumlah sarana pengolahan hasil.

Bantuan tersebut mencakup bibit kopi arabika, mesin pengupas kulit buah kopi (pulper), huller, mesin sangrai (roasting), pengering UV (UV dryer), gudang, hingga kendaraan roda tiga.

“Dukungan diberikan agar kelompok tani memiliki kemampuan mengolah kopi setelah panen. Dengan pengolahan yang lebih baik, kualitas dan nilai jual produk diharapkan dapat meningkat,” ujarnya.

Kualitas Pascapanen Jadi Tantangan Kopi Gunung Kramat

Aep menyebut pengembangan kopi Gunung Kramat masih menghadapi tantangan pada sisi teknologi pascapanen. Kelompok tani membutuhkan peralatan yang lebih modern untuk menjaga konsistensi kualitas dan cita rasa.

“Kelompok tani menginginkan alat-alat kopi yang lebih modern agar dapat bersaing dari sisi kualitas dan rasa. Kami terus mengupayakan bantuan peralatan yang berkualitas,” katanya.

Penguatan sumber daya manusia juga dilakukan. Anggota kelompok tani difasilitasi untuk mengikuti studi banding dan berbagai pameran guna memperkenalkan produk dengan identitas Karamat Coffee.

Upaya promosi tersebut sekaligus membuka peluang agar kopi Gunung Kramat tidak hanya dikenal sebagai produk lokal. Dinas Pertanian juga menjembatani komunikasi dengan sejumlah pihak di Yunani, China, dan Belanda melalui jaringan kafe di negara tersebut.

Dari kerja sama itu, Yunani bahkan telah memberikan bantuan berupa alat penyortir kopi. Peralatan tersebut ditujukan untuk membantu memastikan mutu biji sebelum dipasarkan.

Permintaan dari Yunani Capai 1 Ton per Tahun

Aep mengungkapkan, peluang pasar Yunani mulai terbentuk dengan kebutuhan sekitar 1 ton berasan kopi per tahun untuk kebutuhan perorangan.

“Dari Yunani ada bantuan alat penyortir kopi. Kebutuhannya sekitar satu ton per tahun dalam bentuk berasan kopi,” jelasnya.

Bagi Kabupaten Sukabumi, peluang tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai usaha kopi dari tingkat petani hingga pasar. Pengembangan teknologi pascapanen menjadi penting agar produk yang dihasilkan mampu memenuhi standar kualitas pasar yang dituju.

Dengan tiga varietas dan dukungan pengolahan yang terus dikembangkan, Gunung Kramat memiliki peluang memperkuat identitas Karamat Coffee sebagai produk kopi asal Cisolok.

Pengembangan tersebut kini tidak hanya berbicara mengenai jumlah tanaman, tetapi juga bagaimana kopi diproses, disortir, diperkenalkan, dan mampu menjangkau konsumen di luar daerah hingga pasar internasional.

Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

POPULER

Terbaru