Pengakuan Korban Ungkap Fakta Baru Kasus Kekerasan Seksual Anak di Warungkiara Sukabumi, Terjadi di Kebun dan Rumah Kosong

Sukabuminow.com || Perkembangan baru muncul dalam penanganan kasus dugaan kekerasan seksual yang menimpa seorang siswi kelas III Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Keluarga korban mengungkap sejumlah fakta yang memperkuat dugaan bahwa peristiwa tersebut tidak hanya terjadi sekali, tetapi berlangsung lebih dari satu kali di lokasi berbeda.

Informasi itu disampaikan oleh kakak korban berinisial A (30 th), yang selama ini menjadi tempat korban menyampaikan pengalaman yang dialaminya. Menurut A, sang adik lebih terbuka kepadanya dibandingkan kepada orang tua, sehingga sejumlah keterangan penting baru terungkap setelah korban perlahan berani bercerita.

“Kalau kepada ibu saya memang kurang terbuka. Tapi kepada saya dia mulai menceritakan apa yang dialaminya. Dari ceritanya, kejadian itu terjadi di dua lokasi yang berbeda, yaitu di sebuah rumah kosong dan di kebun,” ujar A di Mapolres Sukabumi, Rabu (24/6/26).

Berdasarkan pengakuan korban, dugaan tindak asusila tersebut melibatkan tiga pelajar yang masih berstatus anak, terdiri atas dua siswa SD dan seorang siswa SMP. Keluarga menduga korban diajak oleh salah seorang terduga pelaku dengan iming-iming sejumlah uang.

Korban kemudian dibawa berjalan kaki cukup jauh dari lokasi tempat dirinya sedang menyaksikan hiburan rakyat. Jarak tempuh menuju lokasi kejadian diperkirakan mencapai 20 hingga 30 menit perjalanan.

Menurut A, dari cerita yang disampaikan korban, dua terduga pelaku diduga melakukan perbuatan tersebut secara bergantian. Sementara seorang lainnya diduga berperan mengajak korban sekaligus merekam atau memotret kejadian menggunakan telepon genggam.

“Ada cerita soal foto yang diambil saat kejadian. Namun menurut adik saya, foto itu sudah dihapus karena pelaku takut diketahui orang tuanya. Kami berharap aparat bisa segera menelusuri hal itu karena khawatir jejak digital yang ada di telepon genggam tersebut hilang,” katanya.

Keluarga juga menduga peristiwa tersebut tidak hanya terjadi satu kali. Meski belum mengetahui secara pasti rentang waktu maupun kronologi lengkap setiap kejadian, korban disebut sempat melakukan penolakan namun tetap mengalami tekanan dari para pelaku.

Dugaan terjadinya peristiwa berulang menjadi perhatian serius keluarga karena berpotensi memperberat dampak psikologis yang dialami korban. Selain mengalami luka fisik, korban kini juga menghadapi trauma yang cukup mendalam.

Usai kejadian, korban diketahui pulang ke rumah dalam kondisi diantar oleh para pelaku. Pada malam harinya, korban mulai mengeluhkan rasa sakit dan mengalami demam.

Saat itu, keluarga belum langsung memahami kondisi yang sebenarnya terjadi. Mengingat usia korban yang masih sangat muda, pengakuannya sempat dianggap sebagai cerita biasa dari seorang anak.

“Dia menangis malam hari dan mengatakan sesuatu yang membuat kami kaget. Awalnya ibu mengira itu hanya ucapan anak kecil. Namun ketika kondisinya demam, mengeluh sakit, dan terus menangis, akhirnya dibawa untuk diperiksa. Dari hasil pemeriksaan awal ditemukan adanya luka sehingga disarankan menjalani pemeriksaan lanjutan di rumah sakit,” ungkap A.

Di tengah proses hukum yang masih berjalan, keluarga kini menghadapi tantangan lain, yakni memulihkan kondisi mental korban.

Sejak kasus tersebut mencuat, korban diketahui belum kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Selain masih mengalami trauma, keluarga mengaku khawatir korban menjadi sasaran perundungan dari lingkungan sekitar apabila dipaksa kembali beraktivitas seperti biasa.

“Pasti ada kekhawatiran dibully. Kondisi mental anak harus menjadi perhatian utama. Kami sedang mempertimbangkan berbagai pilihan agar dia bisa kembali belajar dengan nyaman, termasuk kemungkinan pindah sekolah atau melanjutkan pendidikan di lingkungan yang lebih aman,” ujarnya.

Keluarga menilai pemulihan psikologis korban harus berjalan beriringan dengan proses hukum. Dukungan lingkungan dan pendampingan profesional dianggap sangat penting agar korban dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.

Selain berharap kasus tersebut diusut secara menyeluruh, keluarga juga menantikan pendampingan lanjutan bagi korban, khususnya layanan psikologis yang dinilai mendesak.

Menurut A, pihak terkait sempat melakukan kunjungan awal dan berkomunikasi dengan keluarga. Namun hingga saat ini, keluarga masih menunggu tindak lanjut berupa pendampingan berkelanjutan.

“Memang sempat ada petugas yang datang dan berkomunikasi dengan keluarga. Namun untuk pendampingan psikolog maupun kunjungan lanjutan, kami masih menunggu karena itu sangat dibutuhkan oleh adik saya saat ini,” katanya.

Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

POPULER

Terbaru