Jogging Track Jebol, Patung Penyu Rusak: Ada Apa dengan Alun-Alun Gado Bangkong?

Sukabuminow.com || Kondisi Alun-Alun Gado Bangkong di Jalan Kidang Kencana, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, menjadi sorotan. Fasilitas yang baru berusia setahun itu mengalami kerusakan serius setelah diterjang gelombang besar. Warga mempertanyakan kualitas proyek bernilai miliaran rupiah yang dibangun Pemprov Jabar tersebut, terlebih setelah temuan mengejutkan: struktur dalam ornamen patung penyu ikonik alun-alun ternyata hanya berisi rangka bambu dan material menyerupai kardus.

Pantauan di lokasi menunjukkan kerusakan terjadi di berbagai titik. Cangkang patung penyu tampak sobek dan terkoyak, dengan sirip dan kaki yang hancur. Saat ini, patung penyu pun sudah tidak tampak di tempatnya semula. Tembok di sekitar alun-alun retak dan patah, bebatuan bangunan terangkat, tangga berserakan, serta jogging track jebol akibat abrasi. Kondisi ini membuat masyarakat geram dan mempertanyakan daya tahan bangunan yang didanai dengan anggaran fantastis.

Kontraktor Berdalih, Netizen Tak Terima

Imran Firdaus, perwakilan kontraktor proyek, membantah tudingan bahwa pekerjaannya tidak sesuai standar. Ia mengklaim telah menjalankan kewajiban sesuai aturan dalam pengadaan barang dan jasa.

“Serah terima pertama dilakukan Februari 2024 dengan masa pemeliharaan enam bulan. Serah terima kedua Agustus 2024, lalu pada September 2024, Pemprov Jabar menyerahkan ke Kabupaten Sukabumi,” ujar Imran, Rabu (5/3/25).

Terkait temuan kardus dalam struktur patung penyu, ia menjelaskan bahwa material tersebut bukan bahan utama, melainkan hanya cetakan awal sebelum dilapisi resin dan fiberglass.

“Kardus itu hanya untuk cetakan awal, bukan bahan utama patung. Ornamen ini menggunakan bahan yang sesuai RAB (Rencana Anggaran Biaya),” tegasnya.

Namun, klarifikasi ini tak serta-merta meredam amarah warga dan netizen. Banyak yang mengkritik lemahnya pengawasan serta mempertanyakan kenapa bangunan yang baru jadi sudah mengalami kerusakan parah.

“Rp15 miliar cuma dapat patung kardus? Serius?” tulis seorang netizen di media sosial.

Anggaran Fantastis, Hasil Mengecewakan

Terkait anggaran proyek pembangunan kawasan Alun-Alun Gadobangkong Palabuhanratu yang mencapai Rp15,6 miliar secara keseluruhan, Imran mengklaim bahwa angka tersebut sudah dipotong pajak dan denda keterlambatan.

“Setelah dipotong PPN 11 persen, anggaran menjadi sekitar Rp13 miliar. Ditambah temuan BPK soal kekurangan volume dan denda keterlambatan hampir Rp1 miliar, realisasi anggaran di lapangan tidak sebesar yang diberitakan,” jelasnya.

Namun, pernyataan ini justru memicu pertanyaan baru. Jika anggaran sebesar itu masih menyisakan kekurangan volume, bagaimana kualitas proyek ini bisa dipertanggungjawabkan?

Prasetyo: Perbaikan Tergantung Perkim

Di tengah polemik ini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi, Prasetyo, mengungkapkan pihaknya belum bisa mengambil tindakan karena masih menunggu anggaran dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim).

“Anggarannya tidak ada di DLH, tapi di Perkim. Kami hanya pengelola. Untuk perbaikan, kami masih menunggu anggaran dari Perkim tahun ini,” terang Prasetyo.

Polemik Alun-Alun Gado Bangkong: Siapa yang Bertanggung Jawab?

Kasus ini kembali menyoroti persoalan klasik proyek infrastruktur di Indonesia: besarnya anggaran tak selalu berbanding lurus dengan kualitas. Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan pihak terkait harus segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki fasilitas ini, sebelum kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan dana publik semakin tergerus.

Apakah kasus ini akan berujung pada penyelidikan lebih lanjut? Ataukah akan menjadi satu lagi proyek yang dibiarkan begitu saja? Warga menanti jawaban. (Edo)

Redaktur : Andra Permana

BERITA TERKAIT

BANYAK DIBACA

Terbaru