Arus Membawa Jembatan, Harapan Warga Tarisi Sukabumi Menggantung di Tepi Sungai

Sukabuminow.com || Hujan belum benar-benar reda ketika suara gemuruh dari Sungai Cicareuh mulai terdengar tidak biasa. Kamis (20/11/25) sore, langit di atas Desa Tarisi, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, tampak kelabu, seolah bersiap membawa kabar buruk. Di tepi sungai, beberapa warga menatap arus yang kian meninggi, berharap jembatan darurat yang mereka bangun gotong royong beberapa bulan lalu mampu bertahan.

Namun harapan itu runtuh dalam satu sapuan deras air.

Jembatan kayu yang menjadi satu-satunya jalur penghubung Tarisi dan Hegarmanah itu terlepas dari fondasinya, terangkat, lalu hilang ditelan arus cokelat yang mengamuk. Tidak ada yang sempat menyelamatkan apapun. Warga hanya bisa berdiri pasrah melihat akses yang mereka perjuangkan bersama, hilang dalam hitungan detik.

Keesokan paginya, Jumat (21/11/25), aroma tanah basah masih menguasai udara ketika Kepala Desa Tarisi, Sutendi, tiba di lokasi. Langkahnya pelan, seolah khawatir kakinya menginjak sisa-sisa harapan warganya. Di hadapannya, hanya ada sungai yang meluap, batang-batang kayu tersangkut, dan ruang kosong tempat jembatan itu dulu berdiri.

Sutendi menghela napas panjang. Ada getaran dalam suaranya ketika ia berkata.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun… jembatan penghubung sementara Bantargadung–Tarisi putus. Warga Tarisi dan Hegarmanah mau lewat mana sekarang? Jembatannya sudah tidak ada,” ucapnya.

Di titik itu, suasana hening. Beberapa warga yang ikut meninjau hanya menatap sungai dengan mata kosong, mungkin membayangkan ibu-ibu yang tak bisa ke pasar, anak-anak yang tak bisa berangkat sekolah, atau petani yang terhenti langkahnya membawa hasil bumi.

Masalahnya tidak berhenti di situ. Di lokasi yang sama, sebuah jembatan permanen sebenarnya sedang dibangun melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Sukabumi. Proyek senilai Rp919 juta itu dimulai sejak terbitnya SPK pada 7 Agustus 2025, namun hingga kini belum juga rampung. Baru tiga bulan, tetapi progresnya dikeluhkan lambat.

Sutendi memandang tiang-tiang beton yang berdiri setengah jadi, kemudian menatap kembali warga.

“Ya Allah, ini jembatan yang lagi dibangun… tolong disegerakan. Sudah tiga bulan belum selesai-selesai. Warga saya kasihan,” ucapnya lirih.

Jembatan permanen itu seharusnya menjadi harapan. Namun pada pagi itu, ia justru menjadi pengingat bahwa kehidupan warga Tarisi kini menggantung tanpa kepastian.

Sejak jembatan darurat hanyut, desa seperti kehilangan denyut. Anak-anak berhenti sekolah sementara. Pengemudi ojek pangkalan tidak lagi bisa menyeberang menjemput pelanggan. Para petani memutar langkah jauh hanya untuk mencari jalur lain, yang belum tentu ada.

Pemerintah Desa Tarisi akhirnya mengeluarkan imbauan tegas.

“Kami minta warga tidak melintas hari ini dan besok sampai jembatan selesai. Kami benar-benar sudah tidak punya akses,” kata Sutendi.

Di seberang sungai, terdengar suara orang-orang yang saling memanggil, namun tak bisa bertemu. Sungai Cicareuh kini bukan hanya batas air, namun ia telah menjadi pembatas kehidupan.

Hari ini, hanya satu harapan yang dipegang warga: jembatan permanen itu harus segera diselesaikan. Bukan hanya untuk kembali melintas, tetapi untuk mengembalikan ritme hidup yang terhenti oleh derasnya hujan dan lambatnya pekerjaan.

Di tepi sungai itu, arus masih mengalir deras. Namun warga percaya, pada akhirnya sebuah jembatan harus berdiri kembali, bukan sekadar untuk menghubungkan dua desa, tetapi untuk menjaga kehidupan yang selama ini bertumpu di atasnya.

Reporter: Edo
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

POPULER

Terbaru