Dari Hulu ke Hilir: Strategi Sukabumi Menjawab Instruksi Presiden soal Sampah Pantai
Sukabuminow.com || Instruksi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, terkait penjagaan kebersihan objek wisata pantai bukan sekadar imbauan moral, melainkan sinyal kuat bahwa persoalan lingkungan kini telah menjadi agenda strategis nasional.
Respons cepat datang dari daerah, salah satunya Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kepala Dinas Pariwisata, Ali Iskandar, menilai arahan Presiden sebagai legitimasi sekaligus momentum untuk melakukan reformasi serius dalam tata kelola kebersihan destinasi wisata.
“Penanganan sampah itu bukan sekadar urusan estetika, tapi kebutuhan primer masyarakat untuk hidup sehat. Ini bukan lagi kerja individual, tapi kerja kolektif dan kolaboratif,” ujar Ali, Senin (16/2/26).
Kebersihan sebagai Daya Saing Industri Wisata
Ali menegaskan, dalam konteks industri pariwisata modern, kebersihan bukan lagi faktor pelengkap, melainkan elemen utama yang menentukan minat wisatawan.
“Objek wisata yang kompetitif itu sekarang bukan hanya indah, tapi juga bersih. Kebersihan sudah menjadi standar global,” katanya.
Ia menyebut, instruksi Presiden membuat isu kebersihan kini tidak hanya ditangani oleh dinas teknis semata, tetapi melibatkan lintas sektor, termasuk aparat keamanan, akademisi, hingga pelaku industri pariwisata.
Masalah Klasik Pantai: Sampah Kiriman dari Hulu
Kasus menumpuknya sampah di Pantai Talanca, Kecamatan Simpenan, menjadi contoh konkret persoalan struktural yang dihadapi Sukabumi. Secara geografis, kawasan Palabuhanratu berada di muara beberapa aliran sungai besar, sehingga sampah dari wilayah hulu otomatis bermuara ke pantai.
“Pantai kita sering jadi korban perilaku di wilayah lain. Sampah itu datang dari aktivitas masyarakat di hulu, lalu berakhir di pesisir,” jelas Ali.
Tidak Lagi Seremonial, Harus Sistemik
Ali menegaskan, pendekatan penanganan sampah ke depan tidak boleh lagi bersifat seremonial seperti kerja bakti massal yang hanya berdampak sesaat.
“Kita harus keluar dari pola sporadis. Harus ada sistem yang terintegrasi dan berkelanjutan,” tegasnya.
Salah satu konsep yang sedang dikaji adalah pemasangan jaring penghalang di sungai, pengolahan sampah sebelum muara, hingga pemanfaatan teknologi konversi sampah menjadi energi.
Sampah Jadi Energi, Bukan Beban
Ali mengungkapkan, Pemkab Sukabumi juga membuka peluang pemanfaatan teknologi yang pernah dirintis TNI dalam mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif.
“Kalau sampah bisa jadi energi, maka kita tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tapi juga menciptakan nilai ekonomi baru,” ujarnya.
Konsep ini dinilai sejalan dengan agenda nasional tentang transisi energi dan ekonomi hijau.
Isu Strategis: Lingkungan, Kesehatan, dan Reputasi Daerah
Di balik persoalan sampah, terdapat isu strategis yang lebih besar: citra daerah, kesehatan publik, hingga keberlanjutan industri pariwisata.
Ali menyebut, satu foto pantai kotor yang viral di media sosial bisa merusak reputasi daerah selama bertahun-tahun.
“Wisata itu sangat bergantung pada persepsi. Sekali orang kecewa, mereka tidak akan kembali,” katanya.
Menuju Model Nasional Wisata Berkelanjutan
Ali optimistis, jika sistem penanganan sampah dari hulu ke hilir berhasil diterapkan, Sukabumi justru bisa menjadi role model nasional dalam pengelolaan destinasi wisata berbasis lingkungan.
“Kalau sampah bisa ditangani dari sumbernya, pantai bersih, wisatawan nyaman, ekonomi bergerak. Inilah wajah pariwisata masa depan,” pungkasnya.
Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana




