Sukabuminow.com || Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Heri Wibawa (28 th), pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kampung Cimantaja, Desa Cikiray, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi. Heri menghembuskan napas terakhirnya setelah sempat dirawat intensif di sebuah rumah sakit di Pohang, Korea Selatan.
Bupati Sukabumi, Asep Japar, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas kepergian Heri. Ia memastikan pemerintah daerah bersama Kementerian Luar Negeri dan Dinas Ketenagakerjaan terus berkoordinasi agar proses pemulangan jenazah berjalan lancar.
Berita Terkait:
“Saya, atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, turut berduka cita sedalam-dalamnya atas wafatnya saudara kita, Heri Wibawa. Beliau adalah PMI asal Kampung Cimantaja yang meninggal dunia setelah sempat dirawat di Korea Selatan. Semoga keluarga diberi ketabahan,” ucapnya, Sabtu (6/9/25).
Asjap menjelaskan bahwa sesuai informasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), jenazah Heri akan diberangkatkan dari Korea Selatan pada Minggu (7/9/25) pukul 10.35 WIB dan tiba di Indonesia sekitar pukul 15.40 WIB.
“Kami bersama Kemenlu terus mengawal pemulangan jenazah Heri. Insyaallah, setibanya di Indonesia, pemerintah daerah akan membantu proses pemulangan hingga ke rumah duka. Mohon doa dari seluruh warga Kabupaten Sukabumi agar semua berjalan lancar,” tambahnya.
Dukungan Pemerintah Provinsi
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melalui akun media sosial resminya juga menyampaikan belasungkawa. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil langkah cepat untuk membantu keluarga Heri.
“Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Tenaga Kerja telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kemenlu dan KBRI. Seluruh biaya pemulangan jenazah ditanggung pemerintah provinsi. Untuk itu, keluarga diharapkan tetap tenang. Kami akan mendampingi sepenuhnya,” ujar KDM.
Duka di Kampung Halaman
Heri meninggal dunia pada Rabu (3/9/25). Kepergiannya begitu mendadak, meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Selama tiga tahun bekerja di Korea Selatan, Heri dikenal sebagai sosok pekerja keras yang rela berkorban demi keluarga. Dari hasil jerih payahnya, ia berhasil melunasi utang keluarga dan membangun rumah untuk ibunya.
Andaryana (37 th), kakak ketiga almarhum, mengungkapkan bahwa keluarga hanya bisa pasrah menanti pemulangan jenazah. Ia mengenang adiknya sebagai sosok yang pantang menyerah meski sering menahan sakit.
“Adik saya sempat pusing sejak Agustus, tapi tetap memaksa bekerja. Hingga akhirnya pingsan di tempat kerja dan dibawa ke rumah sakit. Setelah itu, komunikasi dengan keluarga semakin sulit. Kami terakhir berbicara pada pertengahan Agustus,” ujarnya lirih.
Selain duka mendalam, keluarga kini juga masih bingung mengenai pengurusan hak-hak almarhum, termasuk asuransi kematian.
“Kami hanya berharap semua proses bisa segera selesai, baik pemulangan jenazah maupun hak-hak almarhum. Itu hak adik saya, dan kami ingin memperjuangkannya,” tambah Andaryana.
Doa dan Harapan
Di media sosial, ucapan belasungkawa terus mengalir dari sahabat, kerabat, hingga sesama pekerja migran. Warga kampung halaman pun menyebut Heri sebagai anak berbakti yang rela meninggalkan tanah kelahiran demi kesejahteraan keluarga.
Kini, keluarga hanya menanti kepulangan jenazah Heri untuk dimakamkan di tanah kelahiran, tempat ia pertama kali berlari kecil dan menorehkan kenangan.
Pemerintah daerah bersama pemerintah provinsi memastikan akan mendampingi hingga akhir, agar kepergian Heri dapat dihormati dengan layak, dan keluarga bisa melepas dengan tenang.
Reporter: Edo
Redaktur: Andra Permana
