Diduga Alami Tekanan di Sekolah, Seorang Siswi di Sukabumi Ditemukan Meninggal Dunia
Catatan Redaksi:
Dalam pemberitaan ini, redaksi tidak menampilkan identitas lengkap, foto, atau alamat rinci korban untuk melindungi privasi anak sesuai Pasal 13 Ayat (1) dan (2) UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) Dewan Pers.
Sukabuminow.com || Warga Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, digemparkan oleh kabar meninggalnya seorang siswi madrasah berusia 14 tahun yang diduga mengakhiri hidupnya di rumah sendiri pada Selasa (28/10/25) malam.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, korban berinisial AK, seorang siswi di salah satu Madrasah Tsanawiyah Negeri di Kecamatan Cikembar. Di lokasi kejadian, petugas menemukan secarik surat tulisan tangan yang kini menjadi bagian dari penyelidikan pihak kepolisian.
Seorang saksi mata menjelaskan bahwa peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh nenek korban sekitar pukul 23.00 WIB.
“Sekitar jam sebelas malam, nenek korban keluar rumah. Saat membuka pintu, ia melihat sesuatu yang menghalangi jalan. Setelah diperiksa, ternyata cucunya dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Neneknya langsung berteriak meminta tolong,” ujarnya, Rabu (29/10/20).
Menurut saksi, korban tinggal bersama ibu dan neneknya, sementara ayahnya bekerja di luar daerah. Setelah mendapat laporan, petugas gabungan dari Polsek Cikembar, Koramil, Puskesmas, dan Satpol PP segera datang ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan awal.
“Motifnya belum bisa dipastikan. Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. Barang-barang di lokasi, termasuk surat tulisan tangan, sudah diamankan oleh petugas,” tambah saksi.
Setelah dilakukan pemeriksaan awal oleh tim medis dan kepolisian, jenazah korban kemudian dimakamkan pada Rabu (29/10/25) pagi.
Dugaan Perundungan di Lingkungan Sekolah
Surat yang ditemukan di lokasi kejadian menjadi perhatian khusus pihak berwenang. Berdasarkan informasi yang dihimpun, isi surat tersebut mengandung ungkapan perasaan korban yang merasa terluka oleh sikap dan ucapan sejumlah teman di sekolah.
Dalam surat yang ditulis dengan campuran bahasa Sunda dan Indonesia, korban mengungkapkan rasa lelah serta keinginannya untuk mencari ketenangan. Ada pula penggalan kalimat yang menunjukkan bahwa korban sempat ingin pindah sekolah karena merasa tidak nyaman di lingkungan belajar.
Isi surat ini memperkuat dugaan sementara bahwa korban mungkin mengalami tekanan psikologis akibat perundungan (bullying). Namun, kepolisian belum memberikan keterangan resmi mengenai isi surat maupun motif di balik peristiwa tragis tersebut.
Kapolsek Cikembar, Iptu Yadi Suryadi, saat dikonfirmasi awak media, belum memberikan komentar lebih lanjut karena proses penyelidikan masih berlangsung.
Polisi dan Pemerintah Diminta Serius Tangani Dugaan Bullying
Kasus ini kembali membuka keprihatinan publik terhadap kekerasan dan perundungan di lingkungan sekolah yang dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental anak. Pemerhati pendidikan di Sukabumi berharap agar instansi terkait segera melakukan langkah pencegahan dan pendampingan psikologis bagi siswa di wilayah tersebut.
Reporter: Edo
Redaktur: Andra Permana




