Kabupaten SukabumiSosial

Corona Melanda, Keluarga Andi Merana

Reporter : Edo

Sukabuminow.com || Merebaknya wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) membawa dampak negatif dalam segala hal. Salah satunya ekonomi yang semakin melemah. Mungkin tak berpengaruh bagi yang berkecukupan, namun bagi banyak kalangan lain, masih bisa makan saja sudah sangat disyukuri.

Di Kampung Pasir Koet RT 04/07, Desa/Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, satu keluarga berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Andi Saputra (49 th) dan Tuti Mulyati (37 th) serta tiga anaknya, mengalami nasib pahit di tengah badai Corona. Selain tinggal di Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), untuk makan sehari-hari saja masih sangat diragukan.

KONDISI dalam rumah sangat mengkhawatirkan. Foto : Sukabuminow

“Pak Andi pemulung paku menggunakan magnet. Sejak pandemi Covid-19 ini, pakunya tidak ada yang beli. Keadaannya sangat memprihatinkan,” tutur Asep Nuryadin (40 th), tetangga yang kerap membantu keluarga Andi Saputra kepada Sukabuminow.com, Jumat (10/4/20).

Bak sudah jatuh tertimpa tangga, kondisi semakin mengkhawatirkan, karena kondisi Andi saat ini tengah dalam keadaan sakit. Sehingga nasib keluarga itu semakin sulit.

“Saya sudah berkoordinasi dengan beberapa teman, salah satunya Rumah Zakat. Saya meminta solusi karena untuk mendapat bantuan pemerintah, pak Andi terkendala data diri. Belum punya KTP, hanya baru punya KK,” jelasnya.

Di lokasi yang sama, Tuti Mulyati (37 th), mengakui bahwa keadaanya sangat susah. Terlebih dengan hadirnya wabah Corona saat ini. Penghasilan pas-pasan yang biasa didapat suaminya, kini seolah raib tanpa jejak.

“Untuk sehari-hari kami mengandalkan hasil dari mulung paku sambil kerja serabutan. Tapi saat ini paku tidak ada yang nerima semenjak ada wabah Corona. Untuk makan, kami hanya berharap dari tetangga. Alhamdulillah ada Pak Asep. Kami malu sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi,” urai ibu tiga anak itu dengan air mata yang meleleh.

Sejak tahun 2016, keluarganya tinggal di kampung tersebut. Lahan yang ditempati keluarganya merupakan milik mertuanya.

“ampai saat ini saya tidak menerima bantuan dari pemerintah karena tidak punya KTP. Dua anak saya masih sekolah. Yang paling besar kelas satu SMP dan yang nomor dua kelas satu MI,” bebernya.

“Suami kadang bawa uang kadang tidak. Abodemen antar sekolah anak saya yang nomor dua saja bulan kemarin belum dibayar. Beruntung tukang ojeknya baik,” pungkasnya.

Editor : Andra Permana || E-mail Redaksi : sukabuminow8@gmail.com

Tags

Related Articles

Close
Close