Tanggul Baru Jebol Lagi, Banjir Cisolok Sukabumi Sisakan Trauma dan Pertanyaan
Sukabuminow.com || Suasana tenang di kawasan wisata Cisolok, Kabupaten Sukabumi, berubah menjadi kepanikan dalam hitungan menit. Hujan deras yang mengguyur sejak sore, Sabtu (11/4/26), tiba-tiba menjelma menjadi banjir bandang yang menyeret apa pun di hadapannya, termasuk kendaraan milik wisatawan.
Satu unit mobil sedan milik tamu di kawasan Ketapang Resort bahkan terseret hingga ke laut dan hingga kini belum ditemukan.
Bagi warga dan pengunjung, kejadian itu bukan sekadar bencana, melainkan momen mencekam yang sulit dilupakan.
“Air datang sangat cepat. Tidak sampai hitungan menit, arus sudah besar dan langsung menyeret kendaraan,” ungkap salah seorang warga yang berada di sekitar lokasi saat kejadian.
Camat Cisolok, Okih Pazri Assidiq, menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas tinggi menjadi pemicu utama. Namun di lapangan, cerita yang berkembang menunjukkan bahwa kecepatan datangnya air menjadi faktor paling mengejutkan.
“Curah hujan tinggi menyebabkan sungai meluap, bahkan tanggul jebol,” kata Okih, Senin (13/4/26).
Di kawasan Ketapang Resort, tiga mobil milik tamu terseret arus. Dua di antaranya berhasil diselamatkan warga dalam kondisi darurat. Satu lainnya hilang, diduga kuat terbawa hingga ke laut lepas.
Warga dan pengunjung hanya bisa berteriak dan berusaha menyelamatkan diri ketika air bercampur lumpur menerjang area parkir.
Di titik lain, tepatnya di Kampung Cigoler, Desa Cisolok, kerusakan justru memunculkan pertanyaan. Dua titik tanggul jebol dengan lebar masing-masing sekitar 7 meter. Padahal, tanggul tersebut baru saja diperbaiki setelah kejadian serupa pada 2025.
Fakta ini memunculkan dugaan soal ketahanan infrastruktur terhadap cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. Akibat jebolnya tanggul, air langsung masuk ke permukiman warga. Empat rumah mengalami kerusakan, pagar tembok roboh, dan satu bangunan paviliun rata dengan tanah.
Hingga Senin (13/4/26), pencarian mobil yang hanyut masih terus dilakukan. Enam nelayan setempat turun langsung melakukan penyelaman di sekitar perairan. Namun kondisi air yang keruh membuat jarak pandang hampir nol.
“Masih kami cari, tetapi kondisi air (keruh) menyulitkan,” ujar Okih.
Di balik kepanikan, muncul solidaritas. Warga bersama aparat dan relawan bahu-membahu membersihkan sisa banjir. Lumpur tebal, sampah, hingga puing bangunan disingkirkan secara manual. Mesin alkon digunakan untuk mempercepat penyedotan air yang masih menggenang. Namun bagi sebagian warga, yang tersisa bukan hanya kerusakan fisik.
Ada rasa trauma dan kekhawatiran akan kejadian serupa yang bisa terulang kapan saja.
Pemerintah setempat mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di bantaran sungai, untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Kami minta masyarakat tetap siaga terhadap potensi bencana susulan,” tegas Okih.
Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana




