Sukabuminow.com || Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menegaskan bahwa isu lingkungan, khususnya darurat sampah, tidak lagi dapat ditangani dengan pendekatan biasa. Diperlukan perubahan perilaku masyarakat sekaligus penguatan sistem pengelolaan berbasis teknologi untuk menjawab tantangan krisis lingkungan yang semakin kompleks.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi, Nunung Nurhayati, menekankan bahwa momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 harus dimaknai sebagai dorongan untuk aksi nyata, bukan sekadar seremonial.
Menurutnya, pengelolaan sampah menjadi isu strategis yang membutuhkan keterlibatan semua pihak, terutama dalam penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R).
“Kita menghadapi darurat sampah. Saya mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Sukabumi untuk menerapkan 3R, yaitu mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang,” ujar Nunung, Sabtu (6/6/26).
Ia menjelaskan, sampah yang telah dipilah akan diarahkan untuk diolah melalui teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bagian dari solusi pengurangan timbunan sampah dan pemanfaatan energi alternatif.
Selain penguatan teknologi, DLH juga menekankan pentingnya perubahan gaya hidup masyarakat dalam mengurangi produksi sampah sejak dari sumbernya.
“Masyarakat perlu membiasakan diri membawa botol minum dan wadah makanan sendiri saat beraktivitas, agar penggunaan plastik sekali pakai dapat ditekan,” tambahnya.
Isu pengelolaan sampah di Kabupaten Sukabumi mencerminkan tantangan nasional dalam menghadapi peningkatan volume sampah yang terus bertambah setiap tahun. Pemerintah daerah kini mendorong transisi dari sistem konvensional menuju pendekatan ekonomi sirkular berbasis 3R dan teknologi RDF.
Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan lingkungan sekaligus mengurangi beban tempat pembuangan akhir.
Pada level nasional, pemerintah menegaskan bahwa tantangan lingkungan saat ini telah memasuki fase krisis global yang disebut “Triple Planetary Crisis”, meliputi perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.
Sementara itu Kementrian Lingkungan Hidup RI menekankan bahwa penanganan sampah tidak boleh lagi hanya berfokus pada tahap akhir, melainkan harus dimulai dari hulu.
“Penanganan sampah tidak boleh lagi hanya bertumpu pada pendekatan hilir. Kita harus mengubah paradigma tata kelola sampah secara menyeluruh,” tegas Nunung.
Ia juga menambahkan bahwa aksi di tingkat daerah menjadi kunci keberhasilan agenda lingkungan nasional, termasuk target penanaman dua miliar pohon sebagai bagian dari mitigasi perubahan iklim.
“Dunia saat ini menghadapi Triple Planetary Crisis. Target penanaman dua miliar pohon harus kita sukseskan bersama sebagai langkah mitigasi nyata,” ujarnya.
Reporter: Iwan
Redaktur: Andra Permana
