Dari Cibitung Sukabumi, Alarm Sosial untuk Generasi Muda di Bulan Suci

Sukabuminow.com || Dini hari itu, Jumat (20/2/26), suasana Kampung Cibitung, Desa Cibitung, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mendadak riuh. Sekelompok remaja berkumpul di jalanan, sebagian membawa sarung yang digulung. Niat awal mungkin sekadar mencari sensasi atau pengakuan. Namun permainan berubah menjadi aksi yang meresahkan.

Sebanyak 25 remaja akhirnya diamankan aparat dari wilayah hukum Polsek Surade pada Jumat (20/2/26) sekitar pukul 00.30 WIB. Mereka dibina, didata, dan dipulangkan kepada orang tua masing-masing dengan pendampingan.

Peristiwa di Kabupaten Sukabumi ini bukan kejadian tunggal. Di berbagai daerah, fenomena perang sarung hampir selalu muncul setiap Ramadan. Dari tradisi permainan menjadi potensi tawuran.

Antara Rasa Malu dan Harapan Baru

Seorang warga sekitar mengaku sempat terkejut melihat anak-anak yang biasa bermain di sore hari, kini terlibat kerumunan dini hari.

“Mereka itu sebenarnya anak-anak baik. Kalau siang suka bantu orang tua. Mungkin cuma salah pergaulan,” tuturnya lirih.

Di ruang pembinaan, beberapa remaja tampak tertunduk. Rasa malu bercampur takut terlihat jelas. Namun ketika orang tua hadir, suasana berubah. Ada tangis yang pecah, ada nasihat yang disampaikan dengan suara bergetar.

Momen inilah yang dinilai para pengamat sosial sebagai titik krusial: bukan sekadar membuat surat pernyataan, tetapi membuka ruang dialog antara anak dan orang tua.

Ramadan Sebagai Momentum Reorientasi

Kasus di Cibitung Sukabumi akhirnya berakhir kondusif. Situasi kembali aman. Namun pesannya jauh melampaui batas kecamatan.

Ramadan adalah bulan pembinaan spiritual. Tetapi pembinaan karakter remaja membutuhkan kerja kolektif. Orang tua bukan sekadar pengawas, melainkan pendengar. Aparat bukan hanya penindak, tetapi pembimbing. Masyarakat bukan hanya pelapor, tetapi penjaga lingkungan sosial.

Dari sebuah dini hari di Cibitung, Indonesia diingatkan kembali, bahwa menjaga generasi muda tidak cukup dengan larangan. Mereka membutuhkan ruang, arah, dan keteladanan.

Ramadan 1447 H menjadi momentum refleksi, bahwa di balik perang sarung, ada anak-anak yang sebenarnya sedang mencari tempat untuk tumbuh.

Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

BANYAK DIBACA

Terbaru