Gunung Tangkil di Cikakak Sukabumi Diterpa Isu Penggalian Harta Karun

Sukabuminow.com || Sebuah aktivitas penggalian tanah di kawasan Perbukitan Batu Ampar, Desa Cikakak, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang dilakukan secara diam-diam memunculkan pertanyaan serius. Sejumlah lubang ditemukan di kawasan tersebut dan diduga berkaitan dengan pencarian harta karun.

Persoalannya bukan semata-mata soal benar atau tidaknya kabar mengenai harta karun. Lokasi penggalian berada di sekitar kawasan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) Gunung Tangkil, sehingga aktivitas tanpa pengawasan berpotensi menimbulkan persoalan baru apabila dibiarkan.

Temuan itu diketahui setelah pegiat budaya menerima informasi dari warga. Pemangku Paguyuban Padjajaran Anyar, Abah Firman Hidayat, bersama perwakilan pegiat tradisi Lebak Cawene dan Komunitas Saliwang kemudian mengecek lokasi pada Senin (24/8/26).

Di lapangan, mereka menemukan sekitar lima hingga enam titik bekas galian yang tersebar di kawasan perbukitan.

“Ada informasi dari warga setempat katanya ada oknum yang menggali untuk mencari harta karun. Kami tidak tahu siapa orangnya. Ini harus diantisipasi karena lokasinya berada di sebelah Gunung Tangkil,” ujar Firman.

Menurut Firman, informasi yang diterimanya menyebutkan aktivitas penggalian dilakukan pada malam hari. Jika informasi tersebut benar, persoalannya menjadi semakin penting untuk ditelusuri karena aktivitas dilakukan tanpa diketahui secara jelas oleh masyarakat sekitar.

“Kalau dihitung ada sekitar lima sampai enam titik galian. Informasi dari warga memang dilakukan malam hari,” katanya.

Bagi pegiat budaya, keberadaan lubang tersebut tidak dapat dilihat sebagai persoalan biasa. Kawasan sekitar Gunung Tangkil memiliki nilai sejarah dan budaya sehingga aktivitas penggalian seharusnya dilakukan dengan kehati-hatian dan pengawasan.

Yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang melakukan penggalian, apa tujuannya, dan apakah lokasi tersebut memiliki perlindungan atau potensi tinggalan budaya yang harus dijaga.

Firman meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat mengubah kondisi kawasan, terlebih jika dilakukan tanpa koordinasi dengan pihak berwenang.

“Masyarakat harus ikut menjaga kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Jangan sampai ada aktivitas yang justru merusak atau mengganggu kawasan Gunung Tangkil,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kawasan tersebut sebelumnya pernah menjadi perhatian karena munculnya persoalan lain yang berkaitan dengan aktivitas manusia dan situs budaya.

Firman menyinggung keberadaan puluhan makam palsu yang sebelumnya sempat ramai diperbincangkan masyarakat. Menurut dia, persoalan tersebut telah ditindak, tetapi keberadaan makam lain di luar pengawasan masih menjadi perhatian.

“Ini sudah kedua kalinya. Dulu pernah terjadi pembuatan makam-makam palsu, sekitar 40 makam, dan sudah ditindak. Sekarang masih banyak juga pembuatan makam di luar jangkauan kita,” katanya.

Informasi mengenai dugaan pencarian harta karun juga dibenarkan warga setempat, Abah Enoh (64 th).

Ia mengatakan orang-orang yang melakukan penggalian tidak bermalam di lokasi. Aktivitas tersebut disebut hanya berlangsung selama satu hari sebelum mereka meninggalkan kawasan.

“Katanya semalam, penggalian harta karun. Satu hari saja di sini, tidak bermalam, kemudian pulang lagi,” tutur Enoh.

Menurutnya, lubang bekas penggalian memiliki kedalaman sekitar setengah meter. Saat peninjauan dilakukan, sebagian lubang disebut sudah kembali ditutup.

“Ada setengah meteran dalamnya. Sekarang sudah ditutup lagi,” katanya.

Enoh mengaku baru kali ini mendengar adanya aktivitas pencarian harta karun di kawasan tersebut. Selama puluhan tahun tinggal di sekitar lokasi, ia tidak pernah mengetahui adanya kegiatan serupa.

“Dari dulu belum pernah dengar ada harta karun, baru sekarang. Kata orang tempatnya wingit, banyak yang berziarah,” ujarnya.

Reporter: Iwan
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

POPULER

Terbaru