467 Ribu Pohon Sudah Ditanam, Gunung Kramat Sukabumi Punya Ambisi Besar di Balik Kopi

Sukabuminow.com || Hamparan perkebunan kopi di Desa Gunung Kramat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai diarahkan menjadi lebih dari sekadar sentra produksi. Sebanyak 467 ribu pohon kopi yang telah ditanam selama enam tahun menjadi modal untuk membangun ekosistem ekonomi berbasis kopi, mulai dari pertanian, pengolahan, pemasaran, hingga agrowisata.

Program tersebut dikembangkan Pemerintah Desa Gunung Kramat melalui Program Sejuta Kopi. Potensinya cukup besar karena kawasan ini memiliki lahan pengembangan sekitar 800 hektare dan sejarah perkebunan yang telah berlangsung sejak era kolonial.

Kepala Desa Gunung Kramat, Subaeta, mengatakan pengembangan kopi dipilih karena komoditas tersebut memiliki keterkaitan kuat dengan karakter dan sejarah wilayah.

“Gunung Kramat memiliki sejarah perkebunan sejak zaman Belanda yang bergerak di bidang teh, karet, dan kopi. Karena itu, program desa kami sesuaikan dengan potensi dan kultur yang memang sudah ada,” ujarnya, Senin (14/9/26).

Dari ratusan ribu tanaman yang telah dikembangkan, sebagian sudah memasuki masa produksi. Saat ini hasil panen kopi Gunung Kramat berada di kisaran 50 ton per tahun.

“Angka itu masih terbuka untuk ditingkatkan. Kami terus mendorong perluasan penanaman sekaligus memperbaiki pengelolaan hasil agar nilai ekonomi kopi tidak berhenti pada penjualan biji,” katanya.

Potensi kopi Gunung Kramat juga mulai diperkenalkan ke pasar di luar Sukabumi. Produk tersebut telah dipasarkan ke sejumlah daerah, termasuk Palabuhanratu, Bogor, dan Bandung.

Peluang pasar internasional bahkan mulai dibuka melalui kerja sama dengan Yunani. Pengiriman memang masih terbatas, tetapi langkah tersebut menjadi pintu awal bagi produk kopi lokal untuk memasuki pasar global.

“Kami sudah memiliki komitmen dengan Yunani. Ekspornya masih terbatas, sekitar satu ton dalam setahun, tetapi ini menjadi peluang untuk memperluas pemasaran,” kata Subaeta.

Penguatan sektor hilir juga mulai dilakukan. Peralatan pengolahan kopi telah diterima dari Dinas Pertanian, mulai dari penjemuran, pengupasan, pemanggangan (roasting), pengemasan, hingga pemilahan biji berdasarkan tingkat mutu.

“Dengan fasilitas itu, kopi yang dihasilkan tidak hanya dijual sebagai bahan mentah. Nilai tambah dapat diciptakan melalui proses pengolahan dan pengemasan di tingkat desa,” jelasnya.

Potensi Gunung Kramat tidak berhenti pada komoditas pertanian. Pemerintah desa mulai membidik wisata kebun kopi sebagai pengembangan berikutnya.

Konsep yang disiapkan adalah menghadirkan kafe di tengah kawasan perkebunan. Wisatawan nantinya tidak hanya membeli atau mencicipi kopi, tetapi juga dapat menikmati suasana kebun dan mengenal proses produksi kopi secara langsung.

“Harapannya ke depan kami bisa membuat kafe-kafe di kebun kopi. Jadi kopi tidak hanya menjadi produk pertanian, tetapi juga memiliki nilai wisata,” tutur Subaeta.

Gagasan tersebut telah disampaikan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan. Pengembangan wisata kebun kopi juga diarahkan untuk mendukung potensi pariwisata dan kawasan geopark di Kabupaten Sukabumi.

“Program tersebut ditargetkan menjadi salah satu prioritas Desa Gunung Kramat pada 2027,” terangnya.

Selain pasar ekspor dan wisata, pengembangan produk siap konsumsi juga menjadi sasaran. Pemerintah Desa Gunung Kramat menyiapkan kopi dalam format sachet agar lebih mudah dipasarkan dan dijangkau konsumen.

“Produknya masih membutuhkan penelitian dan persiapan produksi. Salah satu kendalanya adalah kebutuhan modal awal untuk pengadaan kemasan yang diperkirakan mencapai sekitar Rp50 juta,” ungkapnya.

Dari sisi legalitas, produk kopi Gunung Kramat disebut telah memiliki sejumlah persyaratan, termasuk perizinan dan sertifikasi halal.

Subaeta menegaskan, pengembangan produk tidak diarahkan sekadar mengejar penjualan. Identitas kopi yang benar-benar berasal dari Gunung Kramat ingin dipertahankan.

“Kami ingin kopi Gunung Kramat benar-benar menggunakan hasil dari wilayah sendiri. Jangan sampai namanya kopi Gunung Kramat, tetapi bahan bakunya berasal dari luar,” tegasnya.

Dengan 467 ribu pohon yang telah ditanam, potensi lahan sekitar 800 hektare, dukungan peralatan pengolahan, pasar hingga Yunani, serta rencana wisata kebun, Gunung Kramat memiliki modal untuk membangun rantai ekonomi kopi dari hulu hingga hilir.

Jika pengembangan tersebut berjalan konsisten, kopi dapat menjadi identitas baru Desa Gunung Kramat sekaligus membuka peluang usaha bagi petani, pengolah, pelaku UMKM, hingga sektor pariwisata.

Bagi Kabupaten Sukabumi, pengembangan itu juga membuka peluang promosi baru, yakni menikmati kopi langsung dari kebunnya, mengenal proses produksinya, sekaligus menikmati lanskap perkebunan Gunung Kramat.

Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

POPULER

Terbaru