Sukabuminow.com || Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, bersiap memulai babak baru setelah kebakaran hebat melanda permukiman warga pada Sabtu (25/7/26).
Bukan membangun kembali kampung di lokasi yang sama, masyarakat Kasepuhan Ciptamulya telah menyiapkan lokasi baru untuk permukiman para penyintas.
Lokasi tersebut berada sekitar satu kilometer dari kampung lama atau sekitar 15 menit jika ditempuh dengan berjalan kaki.
Rencana perpindahan ini menjadi bagian dari penataan kembali kehidupan warga setelah puluhan rumah terdampak kebakaran. Namun, pembangunan kampung baru tidak akan dilakukan secara tergesa-gesa.
Seluruh tahapan tetap mengikuti tetekon adat yang menjadi pedoman masyarakat Kasepuhan Ciptamulya.
Ketua Adat Kasepuhan Ciptamulya, Abah Hendrik Suhendrik Wijaya, mengatakan lokasi lama tidak akan kembali dijadikan permukiman.
“Kalau kata Abah memang enggak bakalan diisi lagi. Buat rest area atau bagaimana di sini, untuk lapangan bola atau apa nantinya,” ujar Abah Hendrik, Senin (10/8/26).
Abah Hendrik mengatakan lokasi baru untuk membangun permukiman warga telah tersedia.
Jaraknya tidak terlalu jauh dari kampung lama sehingga aktivitas masyarakat diharapkan tetap berjalan seperti sebelumnya.
“Lokasi sudah ada. Kalau jalan kaki 15 menit, mungkin satu kilometeran kalau enggak salah, dekat. Sekarang bergeser ke sebelah atas,” ungkapnya.
Perpindahan tersebut juga akan menandai perubahan identitas kampung.
Menurut Abah Hendrik, nama kampung baru nantinya tidak lagi menggunakan nama Ciptamulya.
“Nanti pasti ada ganti nama. Pasti ada ganti. Tidak Ciptamulya, pasti diganti,” katanya.
Rencana tersebut menunjukkan bahwa pembangunan permukiman baru tidak sekadar memindahkan bangunan rumah. Masyarakat juga tengah menyiapkan tata kehidupan baru yang tetap berlandaskan aturan adat.
Salah satu hal yang membedakan pembangunan Kampung Adat Ciptamulya dengan permukiman pada umumnya adalah tahapan pembangunan yang harus mengikuti tetekon adat.
Imah Gede menjadi bangunan pertama yang harus didirikan.
Setelah Imah Gede selesai, pembangunan akan dilanjutkan dengan bangunan yang berkaitan dengan struktur adat, termasuk Pegawai Tuju.
Rumah warga kemudian dibangun secara bertahap setelah struktur utama adat tersebut tersedia.
“Imah Gede dulu nangtung, baru yang lainnya, termasuk mungkin Pegawai Tuju. Pegawai Tuju dulu,” tutur Abah Hendrik.
Menurutnya, masyarakat memahami ketentuan tersebut sehingga tidak memaksakan pembangunan rumah masing-masing lebih dahulu.
“Yang pindah itu harus rumah Imah Gede dulu. Mereka tahu, jangan terburu-buru,” ujarnya.
Rencana pembangunan kampung baru juga berkaitan dengan waktu adat yang harus dihormati masyarakat.
Abah Hendrik menyebut pembangunan diperkirakan dilakukan setelah rangkaian Safar Mulud selesai.
Waktu tersebut menjadi salah satu tahapan yang menentukan dimulainya pembangunan permukiman baru.
“Setelah habis Safar Mulud, kalau sudah selesai ini waktunya mau dibangun, berbondong-bondong bergotong royong untuk Imah Gede dulu,” katanya.
Ia memperkirakan pembangunan rumah warga dapat mulai dilakukan sekitar dua hingga tiga pekan setelah 14 Mulud.
“Paling antara dua minggu, tiga mingguan lagi,” ungkapnya.
Dengan demikian, pembangunan kampung baru tidak hanya mempertimbangkan kesiapan material dan bantuan pemerintah. Kalender adat juga menjadi bagian penting dalam menentukan waktu pelaksanaan.
Setelah pembangunan dimulai, masyarakat akan kembali mengandalkan semangat gotong royong.
Warga yang rumahnya terdampak akan mempersiapkan kebutuhan kayu masing-masing. Namun, proses pembangunan tetap diarahkan agar sesuai dengan ketentuan adat.
Model tersebut sekaligus menjadi bagian dari pemulihan sosial setelah kebakaran.
Pembangunan rumah tidak hanya dimaknai sebagai proses mendirikan tempat tinggal. Warga juga berusaha mengembalikan kehidupan komunitas yang sempat terganggu akibat bencana.
Kampung baru diharapkan menjadi tempat bagi para penyintas untuk kembali menjalani kehidupan secara bertahap.
Kebakaran sebelumnya membuat sejumlah warga harus mengungsi ke rumah kerabat dan tinggal sementara di tenda pengungsian.
Kondisi tersebut sempat menimbulkan syok dan kesedihan mendalam.
Namun, bantuan dari berbagai pihak mulai membantu masyarakat melewati masa pemulihan.
“Alhamdulillah sangat terbantu,” ujar Abah Hendrik.
Menurutnya, bantuan kebutuhan pokok dan dukungan pemerintah memberikan dorongan bagi warga yang kehilangan harta benda akibat kebakaran.
“Seolah-olah digantikan dengan harta benda yang sudah hilang itu. Apalah daya, mungkin sudah ada gantinya,” katanya.
Bantuan pembangunan rumah dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menjadi salah satu harapan warga untuk mempercepat pemulihan.
Abah Hendrik menyebut informasi yang diterimanya, bantuan pembangunan tersebut sudah masuk ke Bank BJB dan pencairannya masih menunggu tahapan sesuai ketentuan.
“Katanya sudah masuk ke Bank BJB. Setelah itu kan ada aturan Safar Mulud, baru nanti dicairkan untuk pembangunan rumahnya,” ungkapnya.
Keputusan tidak membangun kembali permukiman di lokasi lama membuka peluang baru bagi kawasan tersebut.
Abah Hendrik menyebut area bekas kampung dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik.
Beberapa gagasan yang muncul antara lain menjadikannya sebagai tempat istirahat atau lapangan.
Rencana itu belum menjadi keputusan akhir. Namun, gagasan tersebut menunjukkan bahwa lokasi lama dapat memiliki fungsi baru setelah kehidupan warga dipindahkan.
Dengan penataan tersebut, kawasan bekas permukiman tidak dibiarkan begitu saja setelah pembangunan kampung baru selesai.
Rencana perpindahan Kampung Adat Ciptamulya memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana memiliki dimensi yang lebih kompleks.
Warga harus membangun kembali rumah, menata ruang kehidupan, menjaga struktur adat, sekaligus mempertahankan identitas komunitas.
Dalam konteks ini, perpindahan sekitar satu kilometer bukan sekadar relokasi fisik.
Ada proses penataan sosial dan budaya yang harus berjalan bersamaan.
Masyarakat Kasepuhan Ciptamulya memilih untuk membangun kembali kehidupan mereka secara bertahap dengan tetap berpegang pada tetekon adat.
Bahkan, Abah Hendrik mengungkapkan bahwa gagasan mengenai perpindahan kampung sebelumnya telah muncul dalam pandangan adat.
“Iya, memang dari sebelumnya juga sudah ada kila-kila, firasat atau bagaimana. Ya mungkin dengan tegurannya bencana ini, mungkin waktunya ke sana,” tuturnya.
Kini, rencana tersebut mulai menemukan bentuk.
Lokasi baru telah tersedia. Tahapan pembangunan telah ditentukan. Imah Gede akan menjadi bangunan pertama, kemudian struktur adat lainnya, sebelum rumah warga dibangun secara bertahap.
Bagi 51 warga penyintas kebakaran, proses tersebut menjadi awal untuk membangun kembali kehidupan.
Bagi Kasepuhan Ciptamulya, perpindahan ini juga menjadi momentum menata masa depan tanpa meninggalkan akar adat yang selama ini menjadi identitas masyarakat.
Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana
