Sukabuminow.com || Singkong atau ubi kayu memiliki nilai ekonomi tinggi jika sudah berubah bentuk menjadi chips yang menjadi bahan baku pembuatan tepung pregel. Hal itu terungkap dalam Workshop Pengembangan Tepung Ubi Kayu Pregelatinisasi Sebagai Bahan Baku Inovatif Industri Pangan Nasional yang digelar Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian Kementerian Pertanian RI, Selasa (7/6/22).
Workshop yang digelar di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi itu diikuti oleh peserta dari beberapa wilayah di Kabupaten Sukabumi, serta dibuka Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Denis Eriska.
“Kami sudah dua tahun melakukan penelitian ubi kayu di Girijaya, Nagrak. Ubinya bagus, hanya saja masih dijual dalam bentuk ubi segar. Sehingga tidak ada tambahan penghasilan lebih buat petani,” ungkap Peneliti Puslitbang Tanaman Pangan, Dr. Nuning Agro Subekti.

Ia mengatakan, produksi ubi kayu di Kabupaten Sukabumi masih belum maksimal. Penjualan ubi secara langsung kepada offtaker hanya sekitar 2 ribu hingga 3 ribu rupiah per kilogram. Namun, katanya, nilainya akan sangat tinggi jika dijual dalam bentuk rajangan kering atau chips sebagai bahan baku tepung pregel.
“Kalau dijual dalam bentuk chips itu bisa menjadi 55 ribu rupiah per kilogram. Apalagi riset kami didukung dari hulu sampai hilir dengan adanya offtaker. Kita juga sedang mengurus sertifikat SNI karena tepung pregel ini akan digunakan untuk substitusi pangan. Sehingga harus terstandar. Importir juga sudah minta untuk ke China,” jelasnya.
Pregelatinisasi, kata Nuning, merupakan proses pengolahan tepung dari ubi kayu dengan cara dipanaskan dengan suhu tertentu sehingga berubah menjadi gel. Olahan tepung pregel bisa untuk aneka makanan, seperti pasta, nugget, lasagna, dan lain sebagainya.

“Sejauh ini pembuatan tepungnya belum efisien jika dilakukan oleh petani karena membutuhkan infrastruktur dan terstandar karena untuk pangan. Protein tepung pregel ini hanya 3 persen dan zero gluten. Sehingga lebih ramah untuk yang alergi gluten dan anak-anak berkebutuhan khusus,” bebernya.
“Saat ini kita baru bisa produksi 500 kilogram per hari, tapi importir minta 40 ton per hari. Itu yang harus kita kejar,” timpal Dr. Putu Wardana.
Di tempat sama, Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Denis Eriska, menyambut baik agenda yang dijalankan Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian Kementerian Pertanian RI yang dipimpin Dr. Endang Yuli Purwani tersebut. Ia menyebut, hal itu akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan para petani di Kabupaten Sukabumi.
“Kami menyambut baik dan siap memberikan bantuan untuk kelancaran program ini. Intinya kami siap bersinergi untuk menyejahterakan petani dan memanfaatkan potensi pertanian Kabupaten Sukabumi,” tandasnya. (Ade Firmansyah)
Editor : Andra Permana || E-mail Redaksi : sukabuminow8@gmail.com
