Sukabuminow.com || Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai memperkuat mekanisasi pertanian untuk menekan biaya produksi sekaligus mengatasi keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian.
Salah satu teknologi yang mulai digunakan adalah drone penyemprot tanaman.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mengatakan penggunaan drone membuat pekerjaan penyemprotan menjadi lebih cepat dan efisien.
“Kalau menggunakan drone, satu hektare cukup sekitar satu jam. Kalau menggunakan tenaga manusia, bisa membutuhkan sepuluh orang dalam sehari,” ujar Aep, Kamis (10/9/26) malam.
Perbedaan tersebut menunjukkan potensi efisiensi yang cukup besar bagi petani, terutama ketika biaya tenaga kerja terus menjadi salah satu komponen produksi yang harus diperhitungkan.
“Khusus penggunaan drone penyemprot, efisiensi biaya diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp5 juta per hektare. Petani bisa merasakan pengurangan biaya produksi,” katanya.
Efisiensi tersebut masih dapat diperbesar apabila mekanisasi diterapkan pada tahapan lain, mulai dari pengolahan tanah hingga panen.
Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi juga mendorong penggunaan traktor dan mesin panen sebagai bagian dari sistem mekanisasi pertanian yang lebih menyeluruh.
“Mekanisasi semakin dibutuhkan karena ketersediaan tenaga kerja di sektor pertanian mulai menjadi tantangan. Proses budi daya tidak bisa terus mengandalkan pekerjaan manual.”
“Tenaga kerja di pertanian hari ini sudah mulai agak sulit. Solusinya adalah mekanisasi, mulai dari pengolahan, penyemprotan, sampai panen,” ujarnya.
Dengan mekanisasi, pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga manusia dapat dilakukan menggunakan mesin dengan waktu yang lebih singkat.
Selain lebih cepat, penyemprotan menggunakan drone juga disebut menghasilkan distribusi yang lebih merata.
“Teknologi ini telah diuji di tingkat kelompok tani dan memberikan hasil yang dinilai lebih efisien,” jelasnya.
Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi saat ini memiliki enam unit drone untuk mendukung kegiatan pertanian.
Alat tersebut tidak diserahkan secara permanen kepada satu kelompok tani. Drone dikelola dalam skema brigade alsintan sehingga dapat dipindahkan sesuai kebutuhan petani.
Kelompok tani yang membutuhkan layanan mekanisasi dapat mengajukan permohonan kepada Dinas Pertanian.
“Ini tidak kita serahkan ke kelompok. Sifatnya brigade, sehingga bisa berpindah-pindah sesuai kebutuhan. Kelompok yang membutuhkan bisa membuat surat kepada kita,” jelas Aep.
Penggunaan drone juga tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Operator harus memiliki lisensi karena penerbangan drone memiliki ketentuan dan aspek keselamatan yang harus dipenuhi.
Bagi Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, mekanisasi bukan sekadar penggunaan teknologi baru.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi untuk menjaga produktivitas pertanian ketika biaya produksi dan ketersediaan tenaga kerja menjadi tantangan.
“Harapannya, petani bisa merasakan pengurangan biaya produksi. Mekanisasi ini harus memberikan manfaat nyata bagi petani,” tegasnya.
Ke depan, mekanisasi diharapkan tidak hanya digunakan untuk penyemprotan.
Pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, hingga panen juga dapat diperkuat dengan penggunaan teknologi.
Dengan demikian, mekanisasi pertanian Sukabumi tidak berhenti pada penggunaan drone, tetapi berkembang menjadi sistem kerja pertanian yang lebih efisien dari hulu hingga hilir.
Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana
