Sukabuminow.com || Salah satu bencana terdahsyat yang pernah terjadi di Indonesia adalah gempa bumi dan tsunami di Aceh, 26 Desember 2004 silam. Gempa berkekuatan 9.3 SR menyebabkan ratusan ribu orang tewas dan hilang.
Kapolres Sukabumi, AKBP Maruly Pardede, sempat diduga menjadi salah satu korban tsunami Samudera Hindia itu. Sebab saat itu, pria yang disapa Aa Dede itu tengah bertugas selama delapan bulan di Negeri Serambi Mekkah yang kala itu masih berstatus daerah konflik.
“Desember 2004 mau pulang rencananya. Saya sudah ngepack barang dan dikirim ke rumah melalui Bandara Halim. Ternyata terjadi gempa bumi dan tsunami,” tutur Aa Dede mengenang, Senin (9/1/22).
Aa Dede mengatakan, gempa tersebut dirasakannya begitu dahsyat. Bahkan dirinya mengaku sampai tidak dapat berjalan saat keluar dari ruangan.
“Waktu itu habis salat subuh saya tidur lagi. Saya tidak bisa menggambarkan kuatnya guncangan saat itu. Sekitar pukul 8 kejadiannya,” terangnya.
Dengan kejadian itu, Aa Dede dan anggotanya melakukan patroli ke wilayah pemukiman padat penduduk yang berada di dataran cukup tinggi.
“Saat patroli itu di HT anggota teriak-teriak bahwa ada air naik. Bingung saya, air apa yang dimaksud. Saat itu saya jauh dari pantai karena sedang patroli di pemukiman warga yang cukup tinggi,” jelasnya.
Karena penasaran, Aa Dede dan anggotanya turun ke dataran rendah menuju pantai. Dirinya dibuat kaget luar biasa karena melihat situasi sudah porak-poranda dan banyaknya jasad yang sudah tidak bernyawa.
“Sebelumnya air laut surut sampai 500 meter. Warga turun mengambil ikan-ikan yang sudah terlihat. Itu yang menyebabkan banyaknya korban,” bebernya.
“Saya menyaksikan banyak mayat.
Ada ratusan mayat yang saya lihat saat itu. Belum tahu kalau jumlahnya sampai ratusan ribu korban,” imbuhnya.
Tanpa pikir panjang, Aa Dede dan anggotanya melakukan evakuasi terhadap mayat-mayat itu. Kemudian di hari keempat, pihaknya membuat galian panjang dengan lebar 2 meter untuk kuburan massal.
“Saat itu mayat-mayatnya sudah mulai membusuk. Makanya kita kuburkan secara massal,” ujarnya.
Aa Dede melanjutkan ceritanya, listrik baru menyala di hari ketujuh setelah bencana mengerikan itu. Alangkah kagetnya Aa Dede saat melihat berita di TV dan mengetahui bahwa efek gempa bumi dan tsunami itu begitu dahsyat bahkan hingga ke beberapa negara tetangga.
“Dipikir cuma daerah tempat tugas saya saja yang parah. Langsung saya telepon rumah dari wartel, ngasih kabar kalau saya masih hidup. Waktu itu yang ngangkat ibu, beliau pingsan. Kemudian bapa yang ngangkat, dimarahi karena gak ngabarin. Soalnya sulit waktu itu, listrik baru menyala di hari ketujuh,” kisahnya.
Setelah berjibaku dengan tugas dan perasaan yang tidak dapat digambarkan, Aa Dede mengakhiri tugasnya di Aceh. Dirinya pulang ke Polda Jabar.
“Saya pulang pakai kapal perang. Sampai di Polda Jabar, saya dan teman-teman mau dites kejiwaan karena pulang dari lokasi bencana. Kami menolak dan akhirnya tidak jadi. Saya sempat trauma akibat peristiwa itu. Tapi Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu semua kembali normal dan trauma saya sembuh. Dan sampai saat ini, saya kembali bertugas seperti biasa,” pungkasnya.
Editor : Andra Permana || E-mail Redaksi : sukabuminow8@gmail.com
