Dua Begal di Sukabumi Ditangkap, Kapolda Jabar Bongkar Pola Kejahatan di Jalur Sepi

Sukabuminow.com || Terungkapnya kasus begal yang menyasar pemudik di Sukabumi bukan sekadar cerita keberhasilan polisi menangkap pelaku. Di balik itu, tersimpan catatan serius tentang celah pengamanan di jalur mudik yang masih rawan.

Kapolda Jawa Barat, Irjen Rudi Setiawan, secara terbuka menyoroti hal tersebut saat turun langsung memantau kawasan wisata Karanghawu, Cisolok, yang menjadi salah satu titik yang kini dipadati wisatawan dan pemudik, Senin (23/3/26).

Alih-alih hanya memuji jajarannya, Rudi justru memberi penekanan tajam, keberhasilan pengungkapan tidak boleh menutupi kelemahan pada sisi pencegahan.

“Pengungkapan itu penting, tapi pencegahan jauh lebih utama,” ujarnya.

Hasil penelusuran menunjukkan, lokasi pembegalan berada di ruas Jalan Pasir Angin Palasari–Bojonggenteng—jalur alternatif yang kerap dipilih pemudik untuk menghindari kepadatan.

Namun, justru di titik-titik seperti inilah celah keamanan terbuka. Minim penerangan, sepinya lalu lintas pada waktu subuh, serta kurangnya pengawasan aktif menjadi kombinasi yang dimanfaatkan pelaku.

Korban, Ahmad Kosim (27 th), pemudik asal Jakarta, menjadi bukti nyata. Ia disergap saat perjalanan menuju Cikidang bersama istrinya.

Dalam situasi terdesak, korban sempat melakukan manuver berani dengan menabrakkan motornya ke arah pelaku. Namun, ancaman celurit memaksa mereka menyerah. Motor dibawa kabur. Nyawa jadi taruhan.

Meski terjadi di titik rawan, pengungkapan kasus tergolong cepat. Tim gabungan dari Satreskrim Polres Sukabumi dan Polda Jabar bergerak mengumpulkan potongan bukti, termasuk rekaman CCTV dari jalur sekitar. Dari sana, pola pergerakan pelaku mulai terbaca.

Dua nama muncul, yakni Ari Pebriana dan Asep Suryadi alias Marbun. Keduanya warga lokal yang diduga memahami betul karakter jalur tersebut. Penangkapan dilakukan serentak pada Minggu (22/3/26) malam, tanpa perlawanan.

Namun bagi Rudi, keberhasilan ini justru membuka fakta lain, pelaku memanfaatkan ruang kosong dalam sistem pengamanan.

Kunjungan Rudi ke kawasan Karanghawu bukan sekadar rutinitas pemantauan. Ada pesan yang ingin ditegaskan, lonjakan wisata dan mudik selalu diikuti potensi kejahatan.

Menurut Rudi, pola kejahatan seperti ini bukan hal baru. Pelaku cenderung mengincar jalur alternatif yang minim pengawasan, waktu rawan (subuh hingga pagi), hingga korban berpasangan atau membawa barang berharga.

Yang menjadi sorotan, kata dia, adalah bagaimana celah tersebut belum sepenuhnya tertutup.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan patroli. Harus ada kesadaran kolektif, termasuk dari masyarakat,” tegasnya.

Ia bahkan menyebut, konsep keamanan modern harus melibatkan partisipasi publik.

“Masyarakat harus jadi bagian dari sistem keamanan. Bukan hanya objek yang dilindungi,” tambahnya.

Kasus ini menjadi ironi di tengah euforia libur Lebaran, ketika Sukabumi justru dipadati wisatawan yang menuju pantai selatan seperti Karanghawu dan sekitarnya.

Di satu sisi, sektor pariwisata menggeliat. Di sisi lain, potensi kerawanan ikut meningkat. Data di lapangan menunjukkan, jalur menuju kawasan wisata kerap mengalami kepadatan tidak merata, ramai di satu titik, namun kosong di titik lain.

Kondisi inilah yang menciptakan “zona abu-abu” bagi keamanan.

Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

BANYAK DIBACA

Terbaru