Kabupaten SukabumiPeristiwa

Babi Hutan Teror Lahan Pertanian Sukabumi, Warga Minta Solusi Nyata Sebelum Panen Semakin Terancam

Sukabuminow.com || Keresahan luar biasa dirasakan para petani
Desa/Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Bukan karena cuaca ekstrem atau harga hasil pertanian yang anjlok, melainkan akibat serangan babi hutan yang terus menghantui lahan pertanian warga.

Dalam beberapa pekan terakhir, kerusakan tanaman akibat kawanan babi hutan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah. Serangan yang umumnya berlangsung pada malam hari itu membuat petani harus menghadapi ancaman baru yang dapat menggerus pendapatan keluarga mereka.

Sekretaris Desa Cidolog, Iwan, mengatakan laporan kerusakan tanaman datang dari berbagai wilayah dan menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak lagi bersifat lokal, melainkan telah menyebar ke sejumlah kawasan pertanian.

“Keluhan dari warga terus berdatangan karena tanaman mereka banyak yang rusak akibat serangan babi hutan. Hampir di beberapa wilayah terdampak,” kata Iwan, Sabtu (30/5/26).

Menurutnya, wilayah yang terdampak meliputi Pamadangan, Cileuweung, Cilandak, Ciodeng, Cikadu, Carangcang, serta beberapa kawasan lainnya yang selama ini menjadi sentra aktivitas pertanian masyarakat.

Bagi warga, serangan tersebut bukan sekadar gangguan biasa. Tanaman yang dirusak merupakan sumber penghasilan tambahan yang menopang kebutuhan rumah tangga di luar hasil panen padi. Ketika tanaman rusak sebelum dipanen, petani harus menanggung kerugian yang tidak sedikit.

Iwan menuturkan bahwa intensitas serangan babi hutan tahun ini dirasakan lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Akibatnya, warga terpaksa melakukan berbagai upaya mandiri untuk melindungi tanaman mereka.

Sebagian petani bahkan memilih bermalam di kebun dan ladang untuk mengawasi lahan dari ancaman serangan babi hutan yang datang secara tiba-tiba.

“Ada warga yang berjaga sampai malam, bahkan ada yang sengaja menginap di kebun atau ladang untuk menghalau babi yang datang,” ujarnya.

Kondisi tersebut menggambarkan bagaimana ancaman hama babi hutan telah mengubah rutinitas masyarakat. Jika biasanya malam digunakan untuk beristirahat setelah seharian bekerja, kini sebagian petani justru menghabiskan waktu di kebun demi menjaga hasil tanamannya.

Berbagai langkah sebenarnya telah dilakukan untuk mengurangi populasi babi hutan. Salah satunya melalui kegiatan perburuan yang pernah melibatkan organisasi penembak dan pemburu.

Namun upaya tersebut belum mampu menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Dulu pernah ada bantuan dari Perbakin untuk melakukan perburuan babi hutan. Tapi hasilnya tidak terlalu banyak,” ungkap Iwan.

Menurutnya, terdapat fenomena unik yang sering menjadi perbincangan warga saat perburuan dilakukan.

“Anehnya saat dilakukan perburuan, babi-babi tersebut seperti sudah pada tahu,” katanya.

Meski terdengar sederhana, pernyataan tersebut menggambarkan tantangan besar dalam pengendalian hama babi hutan yang memiliki mobilitas tinggi dan bergerak pada waktu-waktu tertentu yang sulit diprediksi.

Meningkatnya serangan babi hutan membuat masyarakat berharap adanya langkah yang lebih terstruktur dari pemerintah maupun instansi terkait. Warga menilai persoalan ini perlu mendapat perhatian karena menyangkut keberlangsungan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pedesaan.

Tanpa penanganan yang efektif, kerugian petani dikhawatirkan akan terus bertambah. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemilik lahan, tetapi juga dapat memengaruhi produktivitas pertanian dan perekonomian desa secara keseluruhan.

Di tengah kondisi tersebut, para petani Cidolog masih berupaya mempertahankan lahan mereka dengan cara-cara sederhana. Mereka memasang penerangan seadanya, membuat tempat berjaga, dan mengawasi kebun sepanjang malam.

Bagi mereka, menjaga ladang bukan sekadar melindungi tanaman dari serangan hama. Lebih dari itu, menjaga ladang berarti menjaga harapan, mempertahankan sumber penghasilan, dan memastikan kebutuhan keluarga tetap dapat terpenuhi di tengah ancaman babi hutan yang hingga kini belum menemukan solusi tuntas.

Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Berita Terkait

Back to top button

You cannot copy content of this page