Dari Gurilapss ke PAD: Strategi Baru Sukabumi Genjot Pendapatan Pariwisata

Sukabuminow.com || Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai menata ulang sektor pariwisata secara serius. Salah satu langkah strategis yang disiapkan adalah penerapan sistem tollgate wisata sebagai upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang selama ini dinilai belum optimal meski jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, menegaskan bahwa rencana tollgate bukanlah tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk membenahi sistem pengelolaan wisata secara menyeluruh.

“Ini hanya trigger. Sebelum itu, kita harus benahi kawasan, tata kelola, dan kualitas pelayanan,” ujarnya saat menghadiri pelatihan promosi pariwisata di Hotel Augusta Palabuhanratu, Sabtu (4/4/26).

Ali mengungkapkan, berdasarkan rekomendasi dari Polda Jawa Barat, tingkat keamanan dan kenyamanan destinasi wisata Sukabumi saat ini baru mencapai 50,3 persen.

Angka tersebut dinilai masih jauh dari ideal untuk mendukung pariwisata berkelas. Karena itu, sejumlah langkah perbaikan menjadi prioritas, mulai dari penambahan titik pantau, peningkatan mitigasi risiko, hingga pembenahan tata kelola kawasan wisata.

Selain itu, penataan kawasan juga harus menghilangkan berbagai persoalan klasik, seperti perbedaan harga, pelayanan yang tidak standar, hingga rendahnya hospitality.

“Ke depan tidak boleh ada lagi duplikasi harga atau pelayanan yang tidak sesuai standar. Semua harus terintegrasi dalam satu manajemen kawasan,” tegasnya.

Sukabumi dikenal memiliki kekayaan alam lengkap dalam konsep Gurilapss (gunung, rimba, laut, pantai, sungai, dan seni budaya). Namun, potensi besar tersebut belum sebanding dengan kontribusinya terhadap PAD.

Data terbaru menunjukkan, saat libur Idulfitri 1447 Hijriah, jumlah kunjungan wisatawan mencapai sekitar 352 ribu orang, tetapi PAD yang dihasilkan hanya sekitar Rp128 juta.

Kondisi ini menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk Anggota DPR RI, Iman Adinugraha.

Iman menilai sistem tollgate wisata bisa menjadi solusi untuk meningkatkan PAD secara signifikan, khususnya pada destinasi yang dikelola pemerintah daerah.

“Kalau dikelola dengan baik dan transparan, PAD bisa meningkat berkali lipat dan kembali untuk pembangunan daerah,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa sistem tersebut tidak akan berlaku untuk destinasi milik swasta, yang tetap berjalan sesuai mekanisme bisnis masing-masing.

Selain itu, Iman mendorong pembangunan jalan alternatif menuju kawasan wisata. Langkah ini dinilai krusial untuk mengatasi kemacetan parah yang kerap terjadi saat musim liburan.

“Jalan alternatif bukan hanya mengurai macet, tapi juga bisa menjadi titik pengelolaan wisata yang lebih tertib dan terintegrasi,” jelasnya.

Di sisi lain, persoalan sampah menjadi tantangan besar yang dihadapi kawasan wisata Sukabumi. Ali bahkan menyebutnya sebagai kondisi “krisis” yang harus segera ditangani.

Sebagai solusi, Dispar Sukabumi tengah mengkaji penerapan teknologi pengolahan sampah berbasis zero waste, di mana limbah dapat diolah langsung di lokasi tanpa harus dibuang ke TPA seperti Cimenteng.

Langkah ini diharapkan tidak hanya menekan biaya operasional, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi di kawasan wisata.

Selain pembenahan fisik, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi fokus utama. Melalui dukungan Komisi VII DPR RI, pelaku wisata mendapatkan pelatihan dari Kementerian Pariwisata untuk meningkatkan kemampuan promosi dan pengelolaan destinasi.

Ali menegaskan, promosi tidak akan efektif tanpa diimbangi dengan kesiapan internal.

“Percuma promosi besar-besaran kalau kita belum siap. Karena itu, pembenahan harus dimulai dari dalam,” ujarnya.

Ke depan, keberhasilan pengembangan pariwisata Sukabumi sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Dengan sistem tollgate, infrastruktur yang memadai, pengelolaan profesional, serta peningkatan kualitas layanan, Sukabumi optimistis mampu menjadikan sektor pariwisata sebagai penggerak utama ekonomi daerah.

“Kalau pariwisata bergerak, ekonomi masyarakat ikut terangkat. Ini bukan hanya soal PAD, tapi kesejahteraan bersama,” pungkas Iman.

Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

POPULER

Terbaru