Air Tak Sampai ke Sawah, Petani Citepus Sukabumi Menjerit: 50 Hektare Terancam Tak Produktif

Sukabuminow.com || Keluhan petani di Kampung Cidahon, RT 02/07, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, semakin kuat. Saluran Daerah Irigasi (DI) Citepus yang menjadi sumber pengairan lahan pertanian mengalami kebocoran sehingga air tidak lagi optimal mencapai areal persawahan.

Kondisi tersebut telah dirasakan petani sekitar empat bulan terakhir. Berbeda dengan musim kemarau sebelumnya, air yang biasanya masih mampu mengaliri sawah kini banyak berkurang sebelum mencapai lahan pertanian di bagian hilir.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mukti Tani, Dadang, mengatakan persoalan tersebut membuat petani kesulitan mempertahankan produktivitas sawah. Padahal, hampir 50 hektare lahan yang berada di bawah layanan irigasi tersebut selama ini tergolong produktif.

“Tahun sekarang petani benar-benar mengeluh. Dari hulu sampai hilir banyak yang tidak beres, terutama karena banyak kebocoran. Biasanya musim kemarau empat bulan pun masih bisa produksi, tetapi sekarang petani benar-benar kesulitan,” ujar Dadang, Selasa (29/9/26).

Menurut Dadang, saluran yang menghubungkan sumber air dari Sungai Citepus menuju wilayah pertanian memiliki lintasan yang panjang. Kondisi itu membuat kebocoran di sejumlah titik semakin berdampak terhadap pasokan air di hilir.

Dari sekitar 53 petani yang tergabung dalam Poktan Mukti Tani, sebagian kini tidak dapat mengandalkan sawah seperti biasanya. Untuk bertahan, sejumlah warga bahkan mencoba mencari penghasilan lain dengan melaut.

“Kalau sawah tidak bisa ditanami, paling kami ke laut. Namanya juga usaha, tetapi kadang ada hasil, kadang nihil,” katanya.

Dadang menjelaskan, upaya mandiri sebenarnya telah dilakukan warga. Petani menggunakan terpal, plastik, serta material seadanya untuk menutup bagian saluran yang bocor. Warga juga sempat mengumpulkan iuran secara sukarela hingga sekitar Rp6 juta untuk memperbaiki saluran.

Namun, perbaikan secara swadaya dinilai belum mampu mengatasi persoalan secara menyeluruh. Keterbatasan material dan kondisi saluran membuat hasil penanganan sementara belum maksimal.

“Kami berharap ada perbaikan dari instansi terkait. Kalau ada perbaikan, petani siap turun dan bergotong royong karena memang sangat membutuhkan air,” ujar Dadang.

Ia berharap rehabilitasi DI Citepus dapat segera dilakukan, terutama pada bagian saluran yang mengalami kerusakan dan kebocoran. Menurutnya, percepatan perbaikan menjadi penting agar petani kembali dapat mengolah sawah secara normal.

“Harapannya secepatnya diperbaiki. Jangan terlalu lama karena petani kasihan. Kami membutuhkan saluran ini supaya bisa kembali berproduksi,” ucapnya.

Di tempat sama, Juru DI Citepus UPTD Pekerjaan Umum wilayah IV Kabupaten Sukabumi Saepul Rohman, membenarkan bahwa kebocoran menjadi salah satu persoalan yang menyebabkan pasokan air tidak optimal hingga ke area persawahan.

Ia menjelaskan, wilayah DI Citepus yang menjadi kewenangan UPTD Pekerjaan Umum Kabupaten Sukabumi memiliki panjang sekitar 3,7 kilometer. Sementara sekitar satu kilometer lainnya berada pada wilayah pertanian.

“Kebocorannya banyak sehingga air tidak sampai ke lokasi yang membutuhkan, terutama persawahan,” kata Saepul.

Berdasarkan hasil survei, sekitar 30 persen bagian saluran mengalami kerusakan, sedangkan sekitar 70 persen lainnya masih dalam kondisi layak.

Saepul mengatakan kondisi kerusakan tersebut akan menjadi bahan usulan untuk penanganan lebih lanjut. Perbaikan dapat diarahkan pada titik saluran yang mengalami kebocoran, retak, maupun kerusakan lainnya.

“Pertama kami survei kerusakannya. Setelah itu diusulkan untuk rehabilitasi, terutama bagian yang bocor, retak, dan rusak,” ujarnya.

Terkait waktu pelaksanaan perbaikan, Saepul menyebut dirinya belum dapat memastikan jadwal realisasi. Usulan penanganan telah disampaikan dan selanjutnya menunggu proses lebih lanjut.

Bagi petani Citepus, persoalan tersebut bukan sekadar kerusakan saluran air. Kelancaran DI Citepus berkaitan langsung dengan keberlangsungan lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber produksi warga.

Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

POPULER

Terbaru