Sukabuminow.com || Persoalan lingkungan di Kampung Leuwi Gadog, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, semakin mengkhawatirkan. Gerusan tanah di sekitar aliran Sungai Cidadap terus meluas, sementara puluhan hektare sawah warga telah tertutup material dan kini aliran sungai disebut semakin mendekati kawasan permukiman.
Warga menilai kondisi tersebut tidak lagi sekadar berdampak terhadap lingkungan dan lahan pertanian. Ancaman baru kini muncul karena gerusan tanah terus bergerak mendekati kampung.
Ketua RT 02/RW 06 Kampung Leuwi Gadog, Dadang Suherman, yang juga mewakili warga RT 13/RW 06, mengatakan perubahan kondisi Sungai Cidadap terlihat sangat signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Menurut Dadang, jarak antara kawasan kampung dan aliran sungai yang sebelumnya diperkirakan mencapai sekitar 350 meter kini semakin menyempit. Gerusan tanah bahkan disebut tinggal sekitar dua meter dari batas bronjong di kawasan yang dikhawatirkan warga.
“Dulu kurang lebih 350 meter. Sekarang sudah nempel, ini tinggal sekitar dua meteran dari bronjong. Sudah mendekati kampung,” kata Dadang, Sabtu (5/9/26).
Dampak perubahan aliran Sungai Cidadap juga dirasakan langsung oleh petani. Hamparan sawah yang sebelumnya menjadi sumber mata pencaharian warga kini banyak tertutup batu, kayu, dan material yang terbawa aliran sungai.
Dadang menyebut sekitar 30 hektare lahan sawah di Kampung Leuwi Gadog terdampak. Sebagian lahan yang sebelumnya ditanami padi bahkan telah berubah menjadi area yang menyerupai aliran sungai.
“Yang asalnya sawah, sekarang sudah jadi wahangan atau kali. Sudah bergantian dengan batu,” ujarnya.
Akibatnya, sebagian petani tidak lagi dapat mengolah lahan seperti sebelumnya. Kondisi tersebut juga berdampak terhadap warga yang selama ini menggantungkan penghasilan sebagai buruh tani.
“Nganggur semua,” kata Dadang.
Menurutnya, hilangnya lahan pertanian membuat sejumlah warga terpaksa mencari pekerjaan lain, termasuk menjadi buruh bangunan. Namun, tidak semua warga memiliki alternatif pekerjaan.
Dadang mengatakan dirinya pun selama ini menggantungkan pekerjaan dari sektor pertanian, mulai dari mencangkul hingga mengoperasikan traktor. Ketika sawah tidak lagi dapat digarap, kesempatan bekerja ikut berkurang.
“Tapi sekarang kalau enggak ada sawahnya, enggak bisa kerja,” tuturnya.
Menjelang musim penghujan, keresahan masyarakat semakin meningkat. Warga khawatir debit air dari hulu kembali membawa material dan memperbesar gerusan tanah di sekitar Sungai Cidadap.
Dadang menilai kondisi tersebut dapat mengancam fasilitas dan bangunan yang berada di sekitar kampung apabila tidak segera ditangani.
“Mohon kepada pemerintah atau kepada dewan, mohon menurunkan alat berat atau ekskavator. Keresahan masyarakat, takutnya kalau musim hujan mungkin sampai ke majelis dan takut juga masjid terseret,” katanya.
Sementara itu, tokoh masyarakat setempat.Sukardi, mengatakan kondisi Sungai Cidadap telah mengalami perubahan besar. Tumpukan batu, kayu, dan material lainnya membuat bentuk sungai serta arah aliran air tidak lagi terlihat dengan jelas.
“Enggak kelihatan bentuk sungainya, enggak kelihatan bentuk aliran ke mana airnya ngalir,” kata Sukardi.
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah. Normalisasi dinilai penting untuk mengarahkan kembali aliran Sungai Cidadap sekaligus mengurangi risiko gerusan tanah di sekitar bantaran.
Sukardi mengatakan warga tidak ingin hanya menunggu hingga dampak kerusakan semakin besar. Aspirasi masyarakat, kata dia, perlu segera direspons melalui penanganan nyata di lapangan.
“Saya ingin menyampaikan suara masyarakat. Artinya suara hati mereka,” ujarnya.
Bagi masyarakat Kampung Leuwi Gadog, persoalan Sungai Cidadap kini telah menjadi persoalan lingkungan dan ekonomi sekaligus. Sawah yang rusak telah mengurangi sumber mata pencaharian, sementara perubahan aliran sungai memunculkan ancaman baru bagi kawasan permukiman.
“Kalau kita bilang periuk penanak nasi sudah balik. Artinya yang bolong ke atas sekarang sudah balik lagi, yang enggak bolong itu justru malah di atas,” tutur Sukardi menggambarkan kondisi sulit yang dirasakan sebagian warga.
Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana
