Sukabuminow.com || Penghijauan kembali atau reboisasi dilakukan di lahan Perhutani setelah bencana longsor melanda Kampung Wangun Sampora, Desa/Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Kamis (6/3/25) lalu. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemulihan lingkungan sekaligus pencegahan bencana serupa di masa depan.
Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Forkopimcam Lengkong, Pemerintah Desa Lengkong, perwakilan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) dan Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lengkong, perwakilan Perkebunan Wangun, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), serta organisasi kepemudaan.
Menjaga Alam untuk Mencegah Bencana
Kapolsek Lengkong AKP Bayu Sunarti mengungkapkan bahwa reboisasi ini bertujuan untuk mengurangi risiko longsor di masa depan dengan memperkuat struktur tanah.
“Alhamdulillah, kami bersama Forkopimcam Lengkong dan unsur Perhutani melaksanakan reboisasi dengan menanam pohon di lahan yang terdampak longsor,” ujarnya pada Rabu (26/3/25).
Ia menambahkan bahwa ratusan pohon telah ditanam di area tersebut, termasuk pohon Albasia, Manii, Mahoni, Jambu, dan Nangka. Selain dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, pohon-pohon ini juga memiliki akar kuat yang mampu menahan erosi tanah.
Dampak Longsor dan Pentingnya Reboisasi
Bencana longsor yang terjadi pada 6 Maret 2025 lalu menyebabkan tanah dari area Perkebunan Wangun menutupi ruas jalan hingga menyebabkan amblesnya Jalan Provinsi Jawa Barat. Hal ini tidak hanya menghambat akses transportasi, tetapi juga membahayakan keselamatan warga sekitar.
“Melihat kondisi tersebut, langkah reboisasi menjadi sangat penting sebagai bagian dari solusi jangka panjang untuk memulihkan ekosistem dan mencegah bencana serupa di masa depan,” tuturnya.
Pesan untuk Menjaga Kelestarian Alam
Reboisasi bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama untuk menjaga keseimbangan alam. Bencana seperti longsor sering kali terjadi akibat berkurangnya tutupan vegetasi yang berperan dalam menyerap air dan menahan tanah. “Kesadaran masyarakat dalam menjaga hutan dan lingkungan sekitar menjadi kunci utama dalam mencegah bencana di masa mendatang,” imbuh Bayu.
“Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin peduli terhadap pentingnya kelestarian lingkungan. Dengan menjaga alam, kita turut menjaga masa depan generasi berikutnya,” tegasnya. (Edo)
Redaktur : Andra Permana
