Sukabuminow.com || Warga nelayan di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengeluhkan langkanya pasokan solar bersubsidi. Kelangkaan itu mulai menjadi persoalan serius bagi keberlangsungan aktivitas melaut. Menyikapi hal itu, DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Sukabumi kini mendesak adanya kejelasan mengenai kondisi pasokan dari Pertamina.
Desakan itu akan disampaikan melalui aksi massa ke Kantor Pertamina Kota Sukabumi pada Kamis, 24 September 2026. HNSI menyebut persoalan ketersediaan solar telah berlangsung cukup lama dan belum mendapatkan penjelasan yang dianggap memadai.
Ketua DPC HNSI Kabupaten Sukabumi, Dede Ola, mengatakan persoalan BBM menjadi kebutuhan mendasar bagi nelayan karena berkaitan langsung dengan kemampuan mereka untuk melaut.
“Kelangkaan solar bersubsidi menjadi persoalan paling mendesak. Ini sudah dirasakan cukup lama dan berbagai upaya penyelesaian sudah kami tempuh, tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan dari Pertamina,” tegasnya, Selasa (22/9/26).
Menurut Dede Ola, HNSI sebelumnya telah membawa persoalan tersebut dalam sejumlah audiensi, termasuk dengan DPRD, DPR RI, dan Dinas Perikanan. Pertamina juga telah ditembuskan dalam komunikasi terkait persoalan tersebut.
Namun, karena belum memperoleh kejelasan mengenai ketersediaan solar yang dibutuhkan nelayan, HNSI memilih menyampaikan tuntutan secara langsung melalui aksi.
“Aksi ini pada pokoknya ditujukan untuk mempertanyakan kondisi ketersediaan solar yang dibutuhkan nelayan,” katanya.
Rencana aksi tersebut telah diberitahukan melalui surat bernomor 005/DPC-HNSI/SUKABUMI/IX/2026 yang ditujukan kepada Kapolresta Sukabumi melalui Sat Intelkam.
Aksi dijadwalkan dimulai pukul 10.00 WIB hingga selesai di Gedung Kantor Pertamina Kota Sukabumi. HNSI memperkirakan sekitar 200 orang akan mengikuti aksi tersebut.
Bagi HNSI, persoalan ini tidak berhenti pada kelangkaan BBM. Kejelasan mengenai pasokan menjadi isu strategis karena solar merupakan salah satu kebutuhan operasional nelayan untuk menjalankan kegiatan penangkapan ikan.
HNSI menyebut kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas nelayan sekaligus menimbulkan keresahan apabila tidak segera mendapatkan penjelasan dan penanganan.
Dede Ola menegaskan, aksi tersebut diarahkan untuk meminta kepastian mengenai kondisi ketersediaan solar bagi nelayan Palabuhanratu.
“Kami ingin mempertanyakan kondisi ketersediaan solar yang dibutuhkan nelayan. Harapannya ada kejelasan sehingga nelayan memiliki kepastian untuk menjalankan aktivitas melaut,” tandasnya.
Sebelumnya, persoalan BBM juga menjadi salah satu masalah yang disoroti HNSI di tengah persoalan infrastruktur perikanan Palabuhanratu. Pada awal September 2026, HNSI turut mengeluhkan pendangkalan kolam dermaga yang membuat kapal kesulitan keluar saat air laut surut.
Dengan rencana aksi pada 24 September, perhatian kini tertuju pada penjelasan Pertamina mengenai kondisi pasokan solar yang dikeluhkan nelayan Palabuhanratu.
Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana
