Sukabuminow.com || Suasana berbeda terlihat di SDN Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Aktivitas pembangunan tidak hanya melibatkan pekerja, tetapi juga orang tua siswa yang bergantian turun langsung membantu proses revitalisasi sekolah.
Bagi Dede Nurwandi, keterlibatan tersebut bukan sekadar pekerjaan fisik. Ia merupakan bentuk kepedulian orang tua terhadap sekolah yang menjadi tempat anak-anak mereka menuntut ilmu.
Dede bahkan memiliki ikatan kuat dengan SDN Cikadu. Selain menjadi wali murid, ia merupakan alumni sekolah tersebut. Tiga anaknya juga pernah dan masih bersekolah di SDN Cikadu.
“Alhamdulillah, bantuan revitalisasi ini sangat membantu. Sekolah yang sebelumnya kurang layak sekarang dibangun menjadi lebih baik dan permanen. Sebagai wali murid dan juga alumni, tentu kami sangat bersyukur,” ujar Dede, Sabtu (12/9/26).
Revitalisasi SDN Cikadu tidak dikerjakan dengan pola biasa. Para wali murid dilibatkan dalam proses pembangunan melalui sistem kerja secara bergiliran atau rolling.
Dede menjelaskan, terdapat sekitar 25 orang yang terlibat dalam pekerjaan. Dari jumlah tersebut, tiga orang diberi peran sebagai tukang sekaligus pengarah teknis di lapangan. Seluruh pegawai juga telah tercover dalam BPJS Ketenagakerjaan.
Sementara itu, wali murid lainnya bekerja secara bergantian setiap pekan. Pola tersebut membuat orang tua siswa dapat ikut membantu sekaligus mengawasi perkembangan pembangunan.
“Wali murid terlibat. Sistemnya rolling, setiap minggu bergantian. Jadi kami tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi ikut mengawal proses pembangunan dari awal,” katanya.
Pekerjaan revitalisasi ditargetkan berlangsung selama 119 hari kalender. Saat ini progres pembangunan disebut telah mencapai sekitar 40 persen.
“Tujuh bagian bangunan menjadi sasaran revitalisasi, terdiri atas empat ruang kelas, satu ruang administrasi, satu ruang perpustakaan, dan satu lokal toilet dengan enam pintu,” ujarnya.
Program tersebut diketahui merupakan Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026 yang bersumber dari APBN dengan nilai Rp802.126.697.
Keterlibatan wali murid juga membuat proses pembangunan lebih mudah diawasi. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kualitas material yang digunakan, termasuk baja ringan dan genteng.
Dede mengatakan material yang digunakan telah mengikuti ketentuan teknis program. Dokumen pendukung seperti sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI), ISO, serta profil perusahaan penyedia material juga tersedia.
“Karena program ini memiliki petunjuk teknis, material yang digunakan harus memenuhi standar. Untuk baja ringan dan genteng, sertifikat SNI dan dokumen perusahaan juga kami pastikan tersedia,” ujarnya.
Menurut Dede, kualitas material menjadi bagian penting karena bangunan sekolah akan digunakan dalam jangka panjang. Orang tua tidak ingin revitalisasi hanya menghasilkan bangunan yang tampak baru, tetapi memiliki kualitas yang tidak sesuai harapan.
Sementara itu selama proses revitalisasi, kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan. Selama proses berlangsung, siswa SDN Cikadu untuk sementara menggunakan sejumlah ruangan di pesantren yang berada tidak jauh dari sekolah.
Langkah tersebut dilakukan agar 113 siswa tetap dapat mengikuti pembelajaran selama enam ruang sekolah direhabilitasi.
“Jangan sampai kegiatan belajar anak-anak berhenti karena pembangunan. Untuk sementara, anak-anak belajar di ruangan pesantren yang berada di sekitar sekolah,” kata Dede.
Di tempat sama, Kepala SDN Cikadu Imas Maswaty, mengatakan revitalisasi menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas lingkungan belajar siswa.
Menurutnya, sekolah terus berkoordinasi dengan panitia pembangunan agar pekerjaan berjalan sesuai rencana dan kebutuhan sekolah.
“Kami berharap seluruh proses revitalisasi berjalan lancar sehingga fasilitas yang dibangun benar-benar dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan belajar siswa,” ujar Imas.
SDN Cikadu saat ini memiliki tujuh guru yang melayani 113 siswa. Dengan jumlah tersebut, keberadaan ruang belajar yang layak menjadi kebutuhan penting untuk mendukung proses pendidikan.
Imas menambahkan, komunikasi dengan wali murid juga menjadi bagian penting selama pembangunan berlangsung. Keterlibatan orang tua membantu sekolah memantau pekerjaan sekaligus menjaga keterbukaan proses pembangunan.
Menunggu Sekolah yang Lebih Nyaman
Bagi Dede, revitalisasi kali ini memiliki arti lebih dari sekadar memperbaiki bangunan. Sekolah yang dahulu menjadi tempatnya belajar kini sedang dibangun kembali agar generasi berikutnya mendapatkan ruang pendidikan yang lebih nyaman.
SDN Cikadu diketahui berdiri sejak sekitar 1975. Perbaikan bangunan sebelumnya memang telah beberapa kali dilakukan, tetapi program revitalisasi tahun 2026 menjadi pengalaman baru bagi sekolah tersebut.
“Kami sebagai wali murid tentu berharap hasilnya bagus. Kalau sekolahnya nyaman dan bangunannya aman, anak-anak juga lebih tenang belajar,” tutur Dede.
Di tengah suara aktivitas pembangunan, para wali murid terus bergantian mengerjakan bagian yang menjadi tanggung jawab mereka.
Bagi mereka, revitalisasi SDN Cikadu bukan hanya proyek pembangunan. Ada harapan agar bangunan yang sedang dikerjakan hari ini dapat menjadi ruang tumbuh bagi 113 siswa dan generasi berikutnya.
Semangat gotong royong itu sekaligus memperlihatkan bahwa pembangunan sekolah dapat menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Dengan pengawasan bersama serta penggunaan material sesuai standar, revitalisasi SDN Cikadu diharapkan tidak hanya menghasilkan bangunan yang lebih baik, tetapi juga menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan layak bagi siswa.
Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana
