Sukabuminow.com || Kabar baik datang bagi lima anak buah kapal (ABK) asal Kabupaten Sukabumi yang terlantar di perairan Fiji. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan persoalan tersebut telah ditindaklanjuti dan proses kepulangan para ABK menuju Indonesia mulai disiapkan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan Duta Besar Fiji untuk mencari solusi atas kondisi yang dialami tujuh ABK asal Indonesia tersebut.
Dari tujuh ABK yang berada di kapal ikan berbendera China itu, lima orang diketahui berasal dari Kabupaten Sukabumi. Dua lainnya berasal dari Batam dan Indramayu.
“Terima kasih sudah menyampaikan informasinya. Kami mencoba menindaklanjuti masalah terlantarnya ABK asal Jawa Barat di Fiji. Pertama, Duta Besar Fiji sudah dihubungi,” ujar Dedi melalui akun Instagram pribadinya, Senin (24/8/26).
Menurut Dedi, Duta Besar Fiji akan memanggil agen yang menangani para ABK. Agen tersebut telah menyanggupi penyediaan tiket untuk memulangkan mereka ke Indonesia.
“Duta Besar Fiji akan memanggil agen dan agen sudah menyanggupi untuk menyiapkan tiket pulang,” katanya.
Tiket Pulang Disiapkan, Logistik ABK Dipastikan Aman
Dedi menjelaskan, setelah tiket tersedia, para ABK akan diterbangkan dari Fiji menuju Indonesia dengan rute transit di Australia.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga memastikan kebutuhan logistik para ABK tetap tersedia selama menunggu proses kepulangan.
“Setelah tiket pulang disiapkan, mereka bisa diterbangkan dari Fiji, kemudian transit di Australia dan kembali ke Indonesia. Kami pastikan logistik bagi seluruh ABK dalam keadaan tersedia,” ujar Dedi.
Ia memastikan perkembangan kondisi para ABK akan terus dipantau sampai mereka benar-benar kembali ke Tanah Air.
“Kami akan terus memantau perkembangan warga Jawa Barat yang hari ini terdampar di Fiji. Semoga mereka bisa segera kembali ke Indonesia,” katanya.
Lima ABK Sukabumi Sempat Kesulitan Makan
Sebelumnya, tujuh ABK asal Indonesia yang bekerja di kapal ikan berbendera China di perairan Fiji mengaku mengalami kesulitan setelah tidak menerima gaji dan uang makan selama beberapa pekan.
Lima di antaranya berasal dari Kabupaten Sukabumi. Salah satunya adalah Teteng Surgana (34 th), warga Kampung Ciaun, Desa Citarik, Kecamatan Palabuhanratu.
Teteng mengungkapkan persoalan mulai muncul sekitar tiga pekan sebelum kabar kepulangan mereka ditindaklanjuti pemerintah.
“Awalnya itu terjadi tiga minggu ke belakang. Biasanya tiap minggu belanja, tiba-tiba hari Jumat pihak Fiji tidak memberikan uang makan,” kata Teteng saat dihubungi pada Sabtu (22/8/26).
Kondisi tersebut membuat para ABK kesulitan memenuhi kebutuhan makanan. Mereka kemudian berupaya mencari bantuan hingga berhasil berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Fiji.
Bantuan makanan dan akses komunikasi kemudian diberikan kepada para ABK. Bantuan tersebut menjadi penting karena mereka sebelumnya juga mengalami kendala berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia.
Kini, setelah Pemerintah Provinsi Jawa Barat ikut menindaklanjuti persoalan tersebut, harapan para ABK untuk segera pulang semakin terbuka.
Bagi lima ABK asal Sukabumi, kepulangan bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Air. Setelah berminggu-minggu menghadapi ketidakpastian di perairan Fiji, tiket pulang menjadi kabar yang paling mereka nantikan.
Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana
